Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Ketika rupiah melemah, dampaknya tidak berhenti pada angka di pasar valuta asing. Harga bahan baku perusahaan dapat meningkat, biaya investasi menjadi lebih mahal, dan dampak tersebut pada akhirnya dapat sampai kepada konsumen.
Pada 8 September 2026, JISDOR Bank Indonesia tercatat Rp17.618 per dolar AS. BI-Rate naik bertahap dari 4,75 persen pada April menjadi 5,75 persen pada pertengahan Juni dan dipertahankan pada level tersebut hingga Agustus. Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah gejolak global, sekaligus menjaga inflasi tetap terkendali dan mendukung pertumbuhan ekonomi.
Depresiasi rupiah bukan sekadar perubahan angka di pasar valuta asing. Ketika rupiah melemah, setiap dolar yang dibutuhkan untuk membeli barang dari luar negeri menjadi lebih mahal. Jenis usaha yang pertama terdampak adalah perusahaan yang menggunakan bahan baku, komponen, energi, dan barang modal impor. Untuk memperoleh barang yang sama, perusahaan harus mengeluarkan lebih banyak rupiah.
Tekanan tersebut terlihat pada harga impor dan harga produsen. Indeks Harga Impor pada triwulan II 2026 naik 25,45 persen secara tahunan. Indeks Harga Produsen juga meningkat 5,62 persen secara tahunan. Pada industri pengolahan, kenaikannya mencapai 4,94 persen.
Kenaikan harga impor tentu tidak seluruhnya disebabkan oleh depresiasi rupiah, karena harga komoditas global juga berpengaruh. Namun, data tersebut menunjukkan bahwa tekanan biaya sudah muncul di sisi produksi sebelum sepenuhnya diteruskan kepada konsumen.
Ketika biaya produksi meningkat, perusahaan menghadapi pilihan yang sulit. Sebagian biaya dapat diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga. Sebagian lain dapat ditahan melalui pengurangan margin, efisiensi, perubahan pemasok, atau penyesuaian produksi. Jika tekanan berlangsung lama, perusahaan tidak hanya menghadapi persoalan harga, tetapi juga penurunan keuntungan dan meningkatnya ketidakpastian usaha.
Dampaknya kemudian dapat menjalar ke keputusan investasi. Perusahaan yang mengimpor mesin atau komponen harus menghitung ulang biaya proyek ketika rupiah melemah. Investasi yang sebelumnya layak dapat menjadi tidak lagi layak. Perusahaan juga menghadapi ketidakpastian mengenai biaya produksi setelah proyek berjalan. Depresiasi yang berkepanjangan dapat membuat dunia usaha lebih berhati-hati dalam memperluas kapasitas produksi.
Risiko semakin besar bagi perusahaan yang memiliki kewajiban dalam valuta asing. Nilai utang dalam dolar AS tidak berubah, tetapi jumlah rupiah yang diperlukan untuk membayar pokok dan bunga kian meningkat ketika rupiah melemah. Bagi perusahaan yang pendapatannya terutama dalam rupiah dan memiliki perlindungan nilai yang terbatas, depresiasi dapat memperburuk kondisi keuangan dan mengurangi ruang untuk berekspansi.
Tekanan dari sektor usaha kemudian dapat merambat ke perekonomian melalui kredit dan investasi. Ketika depresiasi meningkatkan risiko inflasi, ruang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi lebih terbatas.
Suku bunga yang lebih tinggi dapat membantu meredam tekanan terhadap nilai tukar, tetapi pada saat yang sama membuat biaya pembiayaan bagi dunia usaha dan rumah tangga meningkat. Kredit yang lebih mahal pada akhirnya dapat mengurangi insentif untuk berinvestasi dan membatasi konsumsi yang bergantung pada pembiayaan.
Namun, transmisi depresiasi kepada konsumen tidak berlangsung secara otomatis. Inflasi Agustus 2026 tercatat 3,19 persen dan inflasi inti 2,92 persen. Keduanya masih berada dalam sasaran inflasi 2026 sebesar 2,5 persen dengan deviasi ±1 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan biaya di sisi impor dan produsen belum sepenuhnya diteruskan kepada konsumen. Ada jeda antara kenaikan biaya impor, harga produsen, dan harga konsumen. Selama perusahaan masih mampu menahan kenaikan biaya, dampaknya belum sepenuhnya terlihat pada inflasi.
Karena itu, stabilitas rupiah tetap penting. Nilai tukar yang lebih stabil membantu perusahaan memperkirakan biaya impor, merencanakan investasi, dan mengelola kewajiban valuta asing. Stabilitas juga membantu Bank Indonesia menjaga ekspektasi inflasi.
Namun, upaya menjaga stabilitas rupiah juga memiliki konsekuensi bagi perekonomian. Suku bunga yang lebih tinggi dapat membantu meredam tekanan terhadap nilai tukar, tetapi membuat pinjaman lebih mahal bagi perusahaan dan rumah tangga. Sebaliknya, membiarkan depresiasi berlangsung tanpa pengelolaan yang tepat dapat memperbesar tekanan terhadap harga, kondisi keuangan perusahaan, dan daya beli.
Dalam jangka panjang, ketahanan terhadap depresiasi lebih banyak ditentukan oleh struktur ekonomi. Industri dengan pemasok domestik yang kompetitif akan lebih mampu menyerap perubahan kurs dibandingkan industri yang sangat bergantung pada bahan baku dan komponen impor. Produktivitas yang tinggi juga memberi perusahaan ruang lebih besar untuk menyerap kenaikan biaya tanpa langsung menaikkan harga.
Karena itu, Indonesia perlu meningkatkan produktivitas, memperkuat industri pemasok domestik, memperluas akses lindung nilai, serta membuat rantai pasok lebih efisien. Tujuannya bukan mengurangi impor secara membabi buta. Impor barang modal dan bahan baku tetap diperlukan untuk memperbesar kapasitas produksi. Yang perlu dikurangi adalah ketergantungan pada impor yang membuat perubahan kurs cepat meningkatkan biaya produksi.
Depresiasi rupiah pada akhirnya bukan hanya persoalan nilai tukar. Dampaknya bergerak dari harga impor ke biaya produksi, dari biaya produksi ke kondisi keuangan perusahaan, lalu ke investasi, kredit, dan pertumbuhan. Karena itu, menghadapi pelemahan rupiah tidak cukup dengan menjaga stabilitas moneter dalam jangka pendek. Indonesia juga perlu membangun perekonomian yang lebih produktif dan lebih mampu menyerap guncangan dari perubahan nilai tukar.
(miq/miq)

5 hours ago
4

















































