Salma Laiqa, CNBC Indonesia
06 September 2026 12:45
Jakarta, CNBC Indonesia - El Niño semakin menunjukkan kekuatannya. World Meteorological Organization (WMO) dalam pembaruan terbaru 3 September 2026 menyatakan El Niño telah terbentuk dengan kuat dan diperkirakan terus meningkat menjadi kategori sangat kuat dalam beberapa bulan ke depan.
Probabilitas El Niño bertahan hingga Februari 2027 bahkan mencapai hampir 100%, pertama kalinya WMO memberikan proyeksi dengan tingkat keyakinan setinggi itu. Suhu permukaan laut di Pasifik tropis yang menjadi pusat El Niño terus meningkat, dengan anomali mingguan di kawasan Niño 3.4 telah mencapai sekitar 2,2°C-2,6°C di atas rata-rata pada akhir Juli hingga pertengahan Agustus.
WMO memperingatkan El Niño yang sangat kuat dapat mengubah pola hujan dan suhu secara signifikan di berbagai belahan dunia. Dampaknya tidak seragam. Sebagian wilayah menghadapi hujan ekstrem dan banjir, sementara wilayah lainnya justru berisiko mengalami defisit hujan, kekeringan, hingga penurunan debit sungai.
Masalahnya, sungai bukan hanya sumber air. Di sejumlah kawasan dunia, sungai adalah bagian dari urat nadi perdagangan, digunakan untuk membawa komoditas pertanian, energi hingga barang industri dari sentra produksi menuju pelabuhan.
WMO memperkirakan peluang El Niño bertahan pada September-November 2026 hingga Desember 2026-Februari 2027 mendekati 100%, dengan penguatan diperkirakan berlanjut sebelum mencapai puncak menjelang akhir 2026. Foto: World Meteorological Organization (WMO), Agustus 2026.
El Niño Bisa Bikin Jalur Logistik Ikut 'Kering'
Ketika hujan berkurang, debit dan kedalaman sungai ikut turun. Kapal kemudian tidak dapat membawa muatan penuh karena bagian bawah kapal berisiko menyentuh dasar sungai.
Akibatnya, jumlah barang dalam satu perjalanan harus dikurangi, pengiriman dipecah ke lebih banyak kapal atau dialihkan ke truk dan kereta yang umumnya lebih mahal. Dalam kondisi ekstrem, beberapa ruas bahkan tidak dapat dilalui.
Firma hukum maritim Hill Dickinson memperingatkan kondisi air rendah dapat membatasi akses kapal dan kapasitas muatan, meningkatkan antrean, memaksa perubahan rute, serta menambah biaya logistik dan risiko keterlambatan kontrak perdagangan.
Risiko tersebut menjadi semakin penting karena sejumlah sungai yang sensitif terhadap El Niño juga merupakan jalur penting aktivitas ekonomi.
1. Sungai Magdalena, Kolombia
Magdalena menjadi salah satu contoh paling nyata pada 2026. Otoritas lingkungan Kolombia mencatat pada Juli, ketinggian Sungai Magdalena di Yondó berada sekitar 25% di bawah rata-rata historis, sementara curah hujan wilayah tersebut turun sekitar 30% dibandingkan pola dua dekade terakhir.
Otoritas setempat secara eksplisit menyebut pengaruh El Niño telah memperkuat penurunan tersebut. Pemerintah Barrancabermeja juga memasukkan penurunan muka Sungai Magdalena sebagai salah satu risiko El Niño yang dapat mengganggu transportasi sungai dan navigasi.
Ini penting karena Magdalena merupakan jalur transportasi utama Kolombia menuju kawasan Karibia. Pengalaman El Niño sebelumnya juga menunjukkan risikonya. Pada periode El Niño, pemerintah Kolombia pernah harus melakukan pengerukan untuk mempertahankan jalur navigasi ketika level Magdalena dan Cauca turun.
2. Sungai Mekong, Asia Tenggara
Risiko berikutnya berada lebih dekat dengan Indonesia. Mekong River Commission (MRC) menemukan hubungan kuat antara episode El Niño dan terjadinya kekeringan di kawasan Mekong.
Kekeringan 2015-2016, misalnya, bertepatan dengan salah satu episode El Niño terkuat. Kajian MRC juga menunjukkan tahun-tahun El Niño lainnya konsisten dengan sejumlah periode kekeringan besar di Lower Mekong Basin.
Implikasinya bukan hanya air bersih. Mekong menopang transportasi barang, pertanian, perikanan hingga pembangkit listrik tenaga air di Asia Tenggara. MRC memperingatkan aliran rendah dapat membuat sejumlah bagian sungai sulit atau bahkan tidak dapat dilalui, sementara kekeringan juga mengganggu pertanian, perikanan dan produksi listrik.
Dengan demikian, kekeringan Mekong dapat bekerja melalui beberapa jalur sekaligus: produksi pangan turun sementara distribusinya juga menjadi lebih sulit.
3. Sungai Amazon, Amerika Serikat
Amazon juga patut mendapat perhatian. El Niño kuat secara historis dapat menekan curah hujan di sebagian kawasan Amazon. Untuk 2026-2027, peneliti layanan meteorologi Peru, Senamhi, bahkan memperingatkan El Niño yang sangat kuat dapat menyebabkan defisit curah hujan di Amazon Peru.
Dampak ekonomi air rendah di Amazon sudah pernah terlihat. World Bank mencatat jaringan sungai merupakan lifeline atau jalur transportasi utama bagi sebagian besar kawasan Amazon. Ketika air rendah, pelabuhan tidak dapat diakses, hasil panen dapat tertahan, dan masyarakat terputus dari pasar.
Efeknya terhadap biaya juga besar. World Bank mencatat kekeringan menyebabkan tarif angkutan sungai di Amazon melonjak lebih dari 150% pada 2024. Dengan jalan darat yang terbatas di banyak wilayah, mengganti transportasi sungai juga bukan perkara mudah.
Sungai Kering, Ekonomi Dunia Ikut Melambat?
Kekeringan sungai akibat El Niño bisa berubah dari masalah cuaca menjadi masalah ekonomi ketika jalur air digunakan untuk mengangkut komoditas dan barang. Hill Dickinson mencatat bahwa penurunan muka air dapat membatasi akses kapal dan kapasitas muatan, memaksa kapal mengurangi beban, menunggu lebih lama, atau mencari rute alternatif yang lebih mahal.
Dampaknya kemudian menjalar ke rantai pasok. Keterlambatan pengiriman dapat meningkatkan biaya logistik, memperpanjang waktu transit, memicu kemacetan pelabuhan, hingga menimbulkan risiko penalti kontrak. Pada pangan dan energi, gangguan semacam ini juga dapat memperbesar volatilitas harga.
Pengalaman Kanal Panama pada El Niño 2023-2024 menunjukkan skalanya. Kekeringan membuat jumlah kapal yang dapat melintas setiap hari dipangkas dari 36 menjadi sekitar 25, padahal jalur tersebut dilalui sekitar 5% perdagangan dunia. Artinya, jika gangguan serupa terjadi di beberapa jalur penting secara bersamaan, tekanan terhadap perdagangan dan pertumbuhan global dapat membesar.
Dampaknya Sudah Mulai Terlihat di 2026
Risiko tersebut bukan sekadar teori. Pada Agustus 2026, muka air Sungai Rhine di titik Kaub turun hingga di bawah 10 cm, membuat kapal tidak bisa beroperasi dengan muatan penuh. Reuters melaporkan kondisi ini mengganggu industri Jerman, termasuk sektor kimia, utilitas, baja, dan perdagangan hasil pertanian.
S&P Global mencatat kapasitas tongkang di Kaub sempat hanya sekitar 25% dari normal, sementara ongkos angkut masih hampir empat kali lipat level Juli. CMA CGM bahkan menerapkan inland emergency fee akibat rendahnya muka air Rhine dan sungai Eropa lainnya.
Muka air Sungai Rhine di titik Kaub turun tajam sepanjang pertengahan 2026 hingga berada jauh di bawah kisaran normal 2021-2025. Rendahnya level air membatasi kapasitas kapal dan meningkatkan risiko gangguan transportasi barang di salah satu jalur logistik utama Eropa. Foto: S&P Global
Besarnya dampak tersebut tidak lepas dari peran Rhine sebagai jalur logistik utama Eropa. Ratusan juta ton komoditas melintasi sungai ini setiap tahun, termasuk produk minyak, bahan kimia, bahan bangunan, dan pangan.
Dampaknya bahkan dapat masuk ke level ekonomi makro. Institute for the World Economy Kiel memperkirakan jika muka air Kaub berada di bawah 78 cm selama 30 hari berturut-turut, produksi industri Jerman dapat turun sekitar 1%. Meski kekeringan Rhine pada 2026 tidak secara langsung dikaitkan dengan El Niño, kasus tersebut menunjukkan bagaimana turunnya muka air sungai dapat dengan cepat berubah dari persoalan cuaca menjadi gangguan logistik, produksi industri, hingga pertumbuhan ekonomi.
(slm/slm)

2 hours ago
4

















































