Jakarta, CNBC Indonesia - Harga beras diperkirakan akan makin mahal, sehingga akan memiliki dampak buruk bagi daya beli masyarakat Indonesia. Lebih jauh bahkan bisa menambah angka kemiskinan.
Penulis INDEF Rusli Abdullah mengatakan bahwa dalam enam bulan ke depan harga beras berpotensi semakin tinggi. Prakiraan ini didapatkan melalui metode perhitungan ilmiah.
"Saya memprediksikan di sini bahwa nanti tahun 2026 selama 6 bulan ke depan itu harga beras akan terus naik. Ini saya menggunakan model projection A5A itu naik harganya dan tapi belum menyentuh ke level tertinggi seperti di awal tahun 2024," ujarnya dalam diskusi publik INDEF dikutip Kamis (22/1/2026).
Ia mengatakan salah satu faktor kenaikan harga beras karena permintaan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) sehingga mendorong expected inflation.
"Jadi inflasi yang diekspektasikan karena kalau di MBG kan dia butuh beras dia pasti mengamankan beras ya untuk berapa bulan ke depan," ujarnya.
Kondisi ini menurutnya akan menyebabkan 'kelangkaan' serta akan mengganggu daya beli masyarakat. Dirinya khawatir masyarakat yang diupah harian akan sulit membeli beras karena semakin mahal.
"Sehingga ini akan menjadikan apa namanya quote and quote itu kelangkaan. Jadi orang yang biasanya cuma beli beras harian karena memang upahnya itu upah harian, dia enggak bisa tuh beli bulanan," ucapnya.
Ia juga menjelaskan multiplier effect dari harga beras yang semakin mahal seperti ketahanan pangan juga kemiskinan.
"Intinya ee kemiskinan itu berkorelasi dengan food insecurity, dengan kerawanan pangan. Semakin tinggi sebuah daerah itu miskin, banyak tingkat kemiskinan yang tinggi, maka tingkat kerawanan pangannya juga tinggi," imbuhnya.
(haa/haa)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2

















































