Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
15 January 2026 14:31
JAKARTA, CNBC Indonesia - Memasuki kuartal pertama tahun 2026, salah satu sorotan di bursa saham Indonesia adalah realisasi penggunaan dana hasil Penawaran Umum Perdana Saham (IPO) dari emiten-emiten yang melantai sepanjang tahun 2025 lalu.
Laporan realisasi dana ini menjadi indikator krusial bagi investor untuk menilai seberapa cepat manajemen mengeksekusi janji-janji bisnis yang tertuang dalam prospektus.
Dari data yang dihimpun hingga pertengahan Januari 2026, terlihat polarisasi strategi yang sangat tajam. Di satu sisi, terdapat kelompok emiten yang melakukan penyerapan dana secara agresif hingga ludes dalam waktu singkat, menandakan kebutuhan modal kerja yang mendesak atau eksekusi proyek yang masif.
Di sisi lain, terdapat fenomena menarik dari PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) yang tercatat belum menyentuh sepeser pun dana IPO-nya, sebuah langkah yang memicu tanda tanya sekaligus apresiasi terkait prinsip kehati-hatian.
Emiten Dengan Sisa Dana IPO Nol
Fenomena penyerapan dana super cepat ditunjukkan oleh lima emiten yang kini saldo dana IPO-nya tercatat nol rupiah. Kecepatan realisasi ini mengindikasikan adanya kebutuhan likuiditas yang tinggi atau pembayaran kewajiban yang jatuh tempo segera setelah dana segar masuk.
Emiten dengan kode RATU menjadi sorotan utama dalam kelompok ini. Dengan total dana himpunan sebesar Rp218,56 miliar, RATU telah menghabiskan seluruh dananya per Januari 2026.
Analis pasar menilai penyerapan dana sebesar ini dalam waktu kurang dari satu tahun pasca-IPO biasanya dialokasikan untuk belanja modal (Capex) skala besar, seperti akuisisi aset atau pembangunan pabrik baru yang bersifat capital intensive.
Tidak kalah agresif, DGWG bahkan mencatatkan rekor penyerapan tercepat. Dana sebesar Rp202,94 miliar yang mereka himpun sudah ludes sejak Juli 2025, atau hanya beberapa saat setelah IPO.
Pola penyerapan seperti ini sering kali dikaitkan dengan refinancing utang berbunga tinggi atau kebutuhan modal kerja mendadak untuk mengamankan stok bahan baku di tengah volatilitas harga komoditas global.
Sementara itu, PSAT dan BLOG juga melaporkan saldo nol per Januari 2026 dengan masing-masing dana sebesar Rp200,12 miliar dan Rp140,81 miliar. Bagi emiten teknologi seperti BLOG, penyerapan dana yang cepat umumnya wajar mengingat tingginya burn rate untuk akuisisi pengguna dan pengembangan software.
Terakhir, YOII dengan dana yang relatif lebih kecil yakni Rp41,21 miliar, juga telah merealisasikan seluruh anggarannya, kemungkinan besar untuk operasional rutin dan ekspansi jaringan pemasaran jangka pendek.
COIN Masih Menyimpan Dana Bersih Rp 207 Miliar di Bank
Berbeda dengan emiten lain yang segera merealisasikan dana himpunan masyarakat, PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) melaporkan kondisi yang kontras. Berdasarkan laporan per 14 Januari 2026, perseroan menyatakan bahwa dana bersih hasil IPO sebesar Rp 207,05 miliar masih utuh dan belum digunakan sama sekali.
Saat ini, seluruh dana tersebut ditempatkan di instrumen perbankan pihak ketiga. Rinciannya, sebesar Rp 30 miliar disimpan dalam bentuk Deposito berjangka 3 bulan dengan suku bunga 5%.
Sementara itu, porsi terbesarnya yakni Rp 177,05 miliar ditempatkan di Rekening Giro dengan suku bunga 6%. Hal ini menempatkan COIN sebagai emiten dengan posisi kas yang sangat likuid di awal tahun 2026.
Realisasi Modal Kerja ke Anak Usaha Masih Nol
Mengacu pada prospektus, COIN sebenarnya memiliki rencana alokasi dana yang spesifik. Sekitar 85% dana atau setara Rp 175,99 miliar direncanakan untuk modal kerja entitas anak bernama CFX, dan 15% sisanya atau Rp 31,05 miliar untuk entitas anak ICC.
Namun, hingga laporan ini dibuat, realisasi penyaluran dana ke kedua entitas anak tersebut tercatat masih Rp 0 (nol rupiah). Belum adanya pencairan dana ini mengindikasikan bahwa manajemen COIN masih menahan ekspansi modal kerja ke anak usahanya, atau kebutuhan operasional kedua entitas tersebut belum mendesak pada periode pelaporan ini.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

2 hours ago
1
















































