China Kalahkan AS Hebohkan Dunia, Bos Google Komen Tak Terduga

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) dan China bersaing ketat untuk mendominasi sektor tekenologi. Beberapa saat lalu, tokoh teknologi kawakan asal AS seperti Jensen Huang dan Elon Musk mewanti-wanti soal kemajuan teknologi China yang berpotensi mengalahkan dominasi AS.

Huang yang merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam pengembangan AI global blak-blakan menyebut China hanya beberapa nanodetik di belakang AS dalam sektor pengembangan AI. Ucapan itu digembar-gemborkan untuk meyakinkan pemerintah AS agar membuka akses ekspor chip AI ke China.

Menurut Huang, kebijakan protektif AS terhadap chip AI justru akan memotivasi China untuk mengembangkan chip secara mandiri. Jika sudah begitu, AS malah akan tertinggal.

Upaya Huang akhirnya berhasil, tampak dari keputusan kontroversial Trump untuk membuka akses ekspor chip H200 ke China. Chip H200 merupakan prosesor tercanggih kedua buatan Nvidia yang beredar di pasaran saat ini dan sebelumnya dilarang dijual ke China.

Bukan cuma Huang, Musk baru-baru ini juga mengungkapkan kekhawatiran serupa. CEO Tesla dan SpaceX itu mengatakan dalam episode podcast 'Moonshots with Peter Diamandis', bahwa China akan memiliki kekuatan terbesar dan cadangan chip yang melebihi negara lain. Ini merupakan peringatan bagi Presiden AS Donald Trump yang selama ini khawatir bahwa China akan menggeser dominasi AS dalam sektor AI.

Kendati demikian, opini berbeda dikemukakan CEO Google DeepMind, Demis Hassabis. Dalam laporan Bloomberg, Hassabis mengatakan perusahaan-perusahaan AI asal China belum memiliki kemampuan untuk berinovasi melampaui teknologi mutakhir.

Bahkan, Hassabis menekankan bahwa China masih tertinggal sekitar enam bulan di belakang sistem AI buatan perusahaan-perusahaan terkemuka AS.

Kemunculan model R1 dari DeepSeek asal China pada 2025 lalu sempat menghebohkan industri teknologi dunia. Bahkan, saham-saham Silicon Valley sempat mengalami koreksi tajam, karena DeepSeek disebut mampu menyamai kinerja model AI buatan AS dengan harga lebih murah.

Menurut Hassabis, insiden tersebut menunjukkan reaksi berlebihan yang masif dari industri teknologi AS. Hal tersebut diungkap dalam wawancara di World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss.

"Mereka [China] sangat pandai mengejar ketertinggalan di titik terdepan, dan makin mampu melakukannya. Namun, saya pikir mereka belum menunjukkan bahwa mereka dapat berinovasi melampaui batas terdepan," kata Hassabis.

Hassabis mengakui bahwa model R1 DeepSeek cukup mengesankan. Terlebih, kemunculan DeepSeek terjadi ketika AS sedang gencar melakukan pemblokiran akses chip AI dan alat pembuat chip canggih ke China.

Trump Mulai Melunak ke China

Namun, hambatan-hambatan China dalam menggenjot pengembangan AI-nya mulai mereda setelah Trump memutuskan melonggarkan pemblokiran ekspor chip ke negara kekuasaan Xi Jinping. Masalah lain yang timbul datang dari pemerintah China yang dilaporkan menolak masuknya chip H200 ke negaranya. China juga mendorong para perusahaan teknologi lokal untuk memprioritaskan penggunaan chip buatan domestik.

Keputusan Trump ini memicu kontroversi di internal pemerintahan AS. Ada juga kekhawatiran dari pihak pengusaha. Salah satunya diungkap CEO Anthropic, Dario Amodei. Anthropic merupakan pesaing dari DeepMind.

Amodei menganalogikan pembukaan akses chip Nvidia ke China sama saja dengan "menjual senjata nuklir ke Korea Utara".

Meskipun Hassabis menyebut perkembangan AI China masih terbelakang ketimbang AS, tetapi startup AI China mulai unjuk gigi. Misalnya saja Minimax dan Zhipu yang mengumumkan rencana melantai di bursa Hong Kong pada awal bulan ini.

Kebangkitan Google Setelah Terpuruk

Selain persaingan dengan perusahaan China, industri AI dalam negeri AS juga bersaing ketat. Sejak kemunculan ChatGPT pada akhir 2022, raksasa teknologi berlomba-lomba mengembangkan model AI canggih yang mempermudah aktivitas manusia sehari-hari.

Di saat-saat awal, kemunculan ChatGPT yang langsung mendulang popularitas dinilai sebagai akhir bagi kejayaan Google sebagai raja internet. Google dinilai lambat dalam mengadopsi perkembangan AI.

Namun, Alphabet yang merupakan induk Google dengan cepat berbenah diri dan mengejar ketertinggalannya. Bahkan, CEO OpenAI Sam Altman mendeklarasikan 'kode merah' pada Desember 2025 lalu, setelah Google merilis model AI baru yang melampaui kinerja software terbaik OpenAI dalam beberapa kategori pengukuran.

DeepMind berkontribusi terhadap pengembangan asisten Gemini AI milik Google. Adopsinya juga cepat, sebab digelontorkan ke produk-produk Google yang sudah populer digunakan masyarakat, meliputi Gmail, Search, YouTube, dan Photos.

Bukan cuma mengembangkan model AI untuk Google, DeepMind juga mengembangkan robot yang fokus dengan integrasi AI. Hassabis mengatakan ia mengantisipasi momen terobosan dalam 'physical intelligence' atau teknologi AI di dunia fisik.

"Saat ini masih sangat sulit untuk menandingi keandalan, kekuatan, dan ketangkasan tangan manusia," kata Hassabis, merujuk pada tantangan dalah pengembangan physical intelligence.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |