Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
28 May 2026 14:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Cadangan devisa sejumlah negara Asia terpantau mengalami penurunan di tengah meningkatnya tekanan global.
Tantangan bagi negara-negara berkembang, termasuk Asia, memang sedang tidak ringan. Panasnya tensi geopolitik di Timur Tengah akibat perang AS-Iran membuat harga minyak dunia melonjak tajam.
Kondisi ini memperbesar risiko inflasi global. Akibatnya, banyak bank sentral harus lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneternya.
Di saat yang sama, permintaan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) meningkat. Investor global kembali memburu dolar sebagai aset aman atau safe haven. Kondisi ini membuat banyak mata uang Asia ikut tertekan.
Ketika tekanan terhadap nilai tukar membesar, bank sentral di beberapa negara biasanya turun tangan untuk menjaga stabilitas mata uangnya. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan cadangan devisa.
Cadangan devisa dapat dipakai untuk intervensi di pasar valas, terutama ketika mata uang domestik melemah terlalu tajam. Namun, langkah ini juga membuat posisi cadangan devisa berkurang.
Cadangan ini juga menjadi bantalan penting untuk memenuhi kebutuhan pembayaran luar negeri, termasuk pembayaran utang luar negeri pemerintah maupun swasta, impor barang dan jasa, serta kewajiban valuta asing lainnya.
Berdasarkan data yang dihimpun, setidaknya terdapat 10 negara Asia yang mencatat penurunan cadangan devisa pada periode terbaru.
Penurunan terbesar terlihat pada Malaysia. Cadangan devisa Negeri Jiran turun dari US$126,6 miliar menjadi US$113,8 miliar pada April 2026, atau berkurang US$12,8 miliar.
India juga mencatat penurunan cukup besar. Cadangan devisa negara tersebut turun dari US$696,99 miliar menjadi US$688,89 miliar pada Mei 2026, atau turun US$8,1 miliar.
Indonesia turut masuk dalam daftar negara yang cadangan devisanya menyusut. Cadangan devisa berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI) turun dari US$148,2 miliar menjadi US$146,2 miliar pada April lalu atau berkurang US$2 miliar.
Penurunan ini terjadi di tengah tekanan berat terhadap rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS. Bank Indonesia juga beberapa kali menyatakan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Baik melalui intervensi di pasar spot dan juga melalui pasar non delivered forward (NDF) domestik maupun offshore.
Selain Indonesia, Filipina juga mencatat penurunan cadangan devisa sebesar US$2,51 miliar. Sementara Pakistan, Sri Lanka, Oman, Kirgistan, hingga Uni Emirat Arab juga mengalami penurunan, meski dengan besaran yang lebih terbatas.
Secara umum, menyusutnya cadangan devisa tidak selalu berarti kondisi ekonomi suatu negara langsung memburuk. Cadangan devisa memang bisa naik dan turun mengikuti kebutuhan pembayaran luar negeri, intervensi nilai tukar, hingga perubahan nilai aset cadangan.
Namun, dalam situasi tekanan global seperti saat ini, penurunan cadangan devisa menjadi sorotan karena dapat menggambarkan seberapa besar upaya bank sentral dalam menjaga stabilitas mata uangnya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

5 hours ago
3

















































