Susi Setiawati, CNBC Indonesia
14 January 2026 09:31
Jakarta, CNBC Indonesia - Saham grup Bakrie yang punya story jelang rebalancing MSCI, seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), serta afiliasinya PT Darma Henwa Tbk (DEWA), terpantau terkoreksi cukup dalam pada perdagangan Selasa (13/1/2026).
Koreksi paling dalam terjadi di saham DEWA pada kemarin sampai 10,13% ke posisi Rp710 per saham, disusul BUMI menyusut 6,88% menjadi Rp406 per saham, lalu BRMS turun 5,16% menuju Rp1.195 per saham.
Saham BUMI dan DEWA secara berurutan masuk posisi teratas dan kedua sebagai saham yang paling banyak dilego kemarin, total transaksi yang terjual masing-masing mencapai Rp1,07 triliun dan Rp429 miliar. Sementara BRMS berada di posisi ke-empat terjual sebanyak Rp121,4 miliar.
Di balik derasnya arus dana keluar dari saham BUMI, keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) mengungkap adanya aksi jual dari Chengdong Corporation.
Perusahaan tersebut melepas sebanyak 3.713.353.900 saham BUMI di rentang harga Rp363 hingga Rp461 per saham. Dari transaksi ini, Chengdong Corporation berpotensi mengantongi dana sekitar Rp1,35 triliun hingga Rp1,71 triliun.
BUMI mengumumkan penjualan saham emiten tersebut oleh Chengdong Corporation dilakukan berkali-kali dalam rentang waktu 23 Desember 2025 sampai 8 Januari 2026.
Manajemen Chengdong Corporation menyampaikan bahwa tujuan transaksi ini adalah divestasi, sebagaimana tertuang dalam keterbukaan informasi yang dirilis pada Selasa (13/1/2026).
Sementara itu, saham DEWA turut menjadi sorotan setelah mendapatkan tanda khusus berkode "L" dari BEI.
Kode L tersebut diberikan karena perusahaan terlambat menyampaikan laporan keuangan sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan bursa. Pemberian notasi ini merupakan bentuk peringatan kepada investor agar lebih mencermati kepatuhan emiten terhadap kewajiban keterbukaan informasi.
Secara umum, keterlambatan laporan keuangan bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari proses audit yang belum rampung hingga penyesuaian internal perusahaan.
Sementara itu, BRMS disinyalir mengalami tekanan jual karena sikap investor yang mengantisipasi pengumuman MSCI terkait kebijakan baru penghitungan free float yang akan diumumkan akhir bulan ini.
Meskipun, aturan baru tersebut baru akan dilaksanakan pada Mei 2026, pelaku pasar mengantisipasi adanya risiko outflow dari saham-saham yang sudah masuk jadi anggota MSCI.
Di sisi lain, dengan adanya perubahan aturan itu, dua saham Bakrie lain yaitu BUMI dan DEWA tampak mengejar target untuk bisa masuk di rebalancing MSCI edisi Februari ini, mengingat pada aksi kocok ulang ini belum memasukkan aturan pengetatan free float.
Sejauh ini, BUMI dan DEWA sudah dijalur cukup positif untuk bisa masuk MSCI. Sebenarnya, BUMI sudah masuk di kategori small cap, tetapi ada potensi naik kelas ke kategori Global Standar, mengingat harganya sudah naik ke atas 300 dengan transaksi harian terjadi cukup likuid. Saham DEWA juga sudah di atas level 700 membuka gerbang minimum untuk masuk ke MSCI small cap indexes.
Ringkasnya, penurunan saham-saham grup Bakrie pada perdagangan kemarin lebih banyak dipicu oleh kombinasi tekanan teknikal dan sentimen jangka pendek, mulai dari aksi divestasi investor besar, kekhawatiran terkait notasi khusus, hingga sikap wait and see pasar menjelang rebalancing MSCI.
Koreksi ini sebenarnya belum sepenuhnya mencerminkan perubahan fundamental, melainkan lebih ke proses penyesuaian harga setelah reli sebelumnya. Ke depan, pergerakan saham BUMI, DEWA, dan BRMS masih akan sangat ditentukan oleh kepastian hasil rebalancing MSCI, arah arus dana asing, serta perkembangan kebijakan free float yang menjadi perhatian pelaku pasar.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)

3 hours ago
1

















































