Breaking! Surplus Perdagangan 2025 China Tembus Rekor Rp20 Kuadriliun

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah tekanan geopolitik dan bayang-bayang kebijakan proteksionis Amerika Serikat, kinerja perdagangan luar negeri China justru mencatatkan rekor baru. Data resmi yang dirilis Rabu (14/1/2026) menunjukkan Negeri Tirai Bambu menutup 2025 dengan surplus perdagangan tahunan menembus ambang US$1 triliun.

Hal ini menjadi sebuah capaian yang menegaskan ketahanan mesin ekspor China meski menghadapi pemerintahan Donald Trump yang kembali bertekad membatasi dominasinya.

Data kepabeanan China mencatat surplus perdagangan penuh tahun lalu mencapai US$1,189 triliun atau sekitar Rp20 kuadriliun. Angka ini sebanding dengan produk domestik bruto (PDB) negara ekonomi besar dunia peringkat 20 besar seperti Arab Saudi.

Surplus tersebut telah melampaui level US$1 triliun untuk pertama kalinya pada November, sebelum akhirnya mengukuhkan rekor sepanjang tahun.

Kinerja kuat ini muncul saat para produsen China bersiap menghadapi setidaknya 3 tahun ke depan di bawah pemerintahan Trump yang berupaya memperlambat laju industri China dengan mengalihkan pesanan Amerika Serikat ke pasar lain.

Namun, ketahanan Beijing terhadap kembalinya ketegangan tarif sejak Trump kembali ke Gedung Putih pada Januari lalu justru mendorong perusahaan-perusahaan China mempercepat pergeseran fokus ekspor ke Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin guna mengimbangi bea masuk AS.

Ketergantungan Beijing pada ekspor makin besar karena sektor properti masih tertekan dan permintaan domestik tumbuh lamban. Di sisi lain, surplus yang memecahkan rekor ini berisiko memicu kekhawatiran baru di berbagai negara mengenai praktik perdagangan China, masalah kelebihan kapasitas industri, serta ketergantungan yang berlebihan terhadap produk-produk utama dari China.

Nilai ekspor China pada Desember tumbuh 6,6% secara tahunan, meningkat dibandingkan kenaikan 5,9% pada November. Angka ini jauh melampaui perkiraan ekonom yang disurvei Reuters, yang hanya memperkirakan kenaikan sekitar 3,0%.

Impor juga menunjukkan penguatan. Nilai impor naik 5,7% pada Desember, setelah hanya tumbuh 1,9% pada bulan sebelumnya. Realisasi ini kembali melampaui proyeksi pasar yang memperkirakan kenaikan sekitar 0,9%.

Sepanjang tahun lalu, surplus perdagangan bulanan China melampaui US$100 miliar sebanyak tujuh kali. Capaian ini sebagian ditopang oleh melemahnya nilai tukar yuan. Sebagai perbandingan, pada 2024 surplus bulanan di atas US$100 miliar hanya terjadi sekali.

Data tersebut menggarisbawahi bahwa langkah-langkah Trump sejauh ini nyaris tidak menggerus perdagangan China dengan dunia secara luas, meski berhasil menekan ekspor China ke pasar Amerika Serikat.

Para ekonom memperkirakan China masih akan terus menambah pangsa pasar global pada tahun ini. Faktor pendorongnya antara lain langkah perusahaan-perusahaan China membangun basis produksi di luar negeri, yang memungkinkan akses ke pasar Amerika Serikat dan Uni Eropa dengan tarif lebih rendah.

Selain itu, permintaan global yang kuat terhadap chip kelas menengah dan produk elektronik lainnya juga menjadi penopang.

Di sektor otomotif, yang menjadi salah satu etalase ambisi industri global Beijing, kinerja ekspor melonjak signifikan. Total ekspor kendaraan China tahun lalu naik 19,4% menjadi 5,79 juta unit. Pengapalan kendaraan listrik (EV) bahkan melesat 48,8%.

Dengan capaian ini, China diperkirakan akan mempertahankan posisinya sebagai eksportir mobil terbesar dunia untuk tahun ketiga berturut-turut, setelah pertama kali melampaui Jepang pada 2023.

Meski demikian, Beijing menunjukkan tanda-tanda menyadari perlunya menahan laju ekspor industri agar keberhasilan ini berkelanjutan. Kepemimpinan China makin terbuka dan vokal mengenai ketidakseimbangan ekonomi domestik serta persoalan citra yang ditimbulkan oleh lonjakan ekspor yang terlalu besar.

Setelah data surplus US$1 triliun dirilis pada November, Perdana Menteri China Li Qiang pekan lalu dikutip televisi nasional menyerukan perlunya "secara proaktif memperluas impor dan mendorong pengembangan impor dan ekspor yang seimbang."

Pemerintah juga telah mencabut insentif pajak ekspor yang bersifat subsidi bagi industri surya, yang selama ini menjadi sumber gesekan dengan negara-negara Uni Eropa. Langkah tersebut dipandang sebagai sinyal upaya meredakan ketegangan dagang.

Selain itu, parlemen China bulan lalu mengesahkan revisi Undang-Undang Perdagangan Luar Negeri hanya melalui dua kali pembacaan, lebih cepat dari prosedur normal tiga kali. Langkah ini dipandang sebagai sinyal kepada anggota perjanjian dagang besar lintas Pasifik bahwa China siap beralih dari ketergantungan pada subsidi industri menuju perdagangan yang lebih bebas dan terbuka.

Namun, tekanan dari Amerika Serikat masih jauh dari reda. Meski Trump dan Presiden China Xi Jinping mencapai gencatan senjata tarif selama setahun pada akhir Oktober, tarif AS atas barang-barang China tetap berada di level 47,5%.

Angka ini jauh di atas kisaran sekitar 35% yang, menurut para analis, masih memungkinkan perusahaan China mengekspor ke AS dengan margin keuntungan.

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |