Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan awal pekan ini, Senin (8/6/2026).
Melansir data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan di zona merah dengan terkoreksi 0,22% ke level Rp18.050/US$.
Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (5/6/2026), mata uang Garuda berhasil ditutup menguat tipis 0,06% ke level Rp18.010/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 09.00 WIB terpantau melemah 0,07% ke posisi 99,998.
Meski melemah pada pagi ini, posisi DXY masih berada di level yang cukup tinggi. Pada perdagangan terakhir pekan lalu, DXY bahkan menguat tajam 0,66% hingga kembali menembus level 100.
Posisi indeks dolar AS yang masih tinggi membuat ruang penguatan mata uang Asia, termasuk rupiah, cenderung terbatas.
Dolar AS sebelumnya menguat setelah data tenaga kerja Amerika Serikat periode Mei dirilis lebih kuat dari perkiraan. Data tersebut memperkuat spekulasi bahwa langkah berikutnya dari bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) berpotensi berupa kenaikan suku bunga.
Selain itu, dolar AS juga masih mendapat dukungan dari permintaan aset aman atau safe haven. Hal ini terjadi karena Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan banyak kemajuan dalam pembicaraan mengenai kesepakatan damai sementara.
Di sisi lain, Konflik antara Israel dan milisi Hizbullah masih berlanjut di Lebanon. Iran disebut tetap menuntut gencatan senjata di Lebanon sebelum menerima kesepakatan dari AS untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz.
Dari dalam negeri, perhatian pasar juga tertuju pada pertemuan antara Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Bank Indonesia (BI), dan pemerintah di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, pada Sabtu (6/6/2026) akhir pekan lalu.
Konsolidasi yang diinisiasi Wakil Ketua DPR dari Fraksi Gerakan Indonesia Raya Sufmi Dasco Ahmad tersebut bertujuan menunjukkan sinergi fiskal dan moneter yang semakin erat di tengah tekanan terhadap rupiah.
"Pada hari ini DPR sengaja berkumpul dengan teman-teman dari lembaga otoritas moneter maupun kebijakan fiskal serta dari pihak pemerintah untuk mengadakan evaluasi mengenai perkembangan ekonomi," ujar Dasco dalam konferensi pers saat itu.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai pertemuan tersebut dapat memberikan sentimen positif bagi pergerakan rupiah, meskipun dampaknya lebih bersifat menahan tekanan ketimbang langsung membalikkan arah secara kuat.
"Menurut saya, pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur BI di DPR dapat memberi pengaruh positif terhadap pergerakan rupiah pada Senin 8 Juni 2026, tetapi pengaruhnya kemungkinan lebih bersifat menahan tekanan, bukan langsung membalikkan arah secara kuat," kata Josua kepada CNBC Indonesia.
Menurut Josua, komitmen untuk memperkuat koordinasi, menjaga daya tarik imbal hasil aset rupiah, dan memastikan ketersediaan likuiditas dapat membantu meredakan kekhawatiran jangka pendek.
"Namun, penguatan rupiah tetap sangat bergantung pada apakah komitmen tersebut segera diikuti langkah nyata, bukan hanya pernyataan bersama," tegasnya.
(evw/evw)
Addsource on Google

53 minutes ago
2

















































