Jakarta, CNBC Indonesia - Prospek ekonomi Indonesia pada 2026 dinilai masih penuh ketidakpastian. Berbagai faktor global dan domestik bergerak sangat dinamis, membuat arah pertumbuhan ekonomi sulit diprediksi secara pasti sejak sekarang.
Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam menilai, kinerja ekonomi ke depan sangat ditentukan oleh sejumlah penggerak utama, mulai dari kebijakan pemerintah, kondisi likuiditas, hingga daya beli masyarakat.
"2026 kita lihat faktor-faktor penggeraknya. Biasanya penjualan itu kan ditentukan oleh kebijakan pemerintah, yang kedua bagaimana juga likuiditasnya, kemudian juga daya beli ke depannya," ujar Bob.
Tantangan terbesar adalah banyaknya faktor minus dan plus yang bergerak bersamaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Situasi global, khususnya dari negara-negara besar, turut memberi pengaruh signifikan terhadap arus modal dan stabilitas pasar keuangan domestik.
Ia menyoroti langkah Amerika Serikat dan China yang mulai kembali melakukan quantitative easing (QE) atau pelonggaran moneter melalui pencetakan uang. Kebijakan tersebut berpotensi mendorong aliran dana besar ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
"Misalnya contoh negara seperti Amerika, kemudian China, ya udah mulai melakukan QA, Quantitative Easing. Udah mulai printing money. Biasanya kalau ada printing money, itu mengalir kapitalnya tuh drastis ke negara-negara yang berkembang," katanya.
Namun, Bob mengingatkan, euforia pasar keuangan akibat derasnya arus modal tersebut biasanya hanya bersifat sementara. Setelah satu hingga dua tahun, risiko koreksi tajam justru bisa muncul.
"Sehingga stock market kita nanti akan hijau royo-royo tapi itu sesaat ya dalam waktu setahun-dua tahun, balik lagi kita akan lebih dalam lagi turunnya," jelasnya.
Deret Tantangan dan Kuncian Ekonomi RI tahun 2026
Dalam kondisi tersebut, Bob menegaskan, fondasi ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada pergerakan harga komoditas. Fluktuasi harga komoditas akan langsung berdampak pada penerimaan negara dan ruang fiskal pemerintah.
"Tapi intinya penggerak ekonomi itu dari harga komoditas ya. Jadi kalau harga komunitas itu turun, ya ekonomi kita akan lebih berat karena penerimaan pajak juga turun. Jadi Indonesia itu sangat ditentukan oleh harga komoditas," tegas Bob.
Ia juga menyinggung ketegangan geopolitik global yang berpotensi memengaruhi harga komoditas. Dampaknya bisa bersifat dua arah, tergantung bagaimana konflik tersebut memengaruhi permintaan dan aktivitas ekonomi dunia.
"Kalau kita lihat ketegangan politik, apakah akan meningkatkan harga komoditas atau justru menurunkan harga komunitas? Ya kalau misalnya meningkat, ya mungkin dampaknya bagus bagi Indonesia. Tapi kalau misalnya ekonominya turun, konsumsinya turun, kemudian demandnya turun, itu akan berbahaya kepada Indonesia," ujarnya.
Selain komoditas, Bob menilai kesehatan sektor keuangan dan perbankan juga menjadi kunci penting. Ia mencatat adanya perlambatan pertumbuhan kredit dalam beberapa tahun terakhir, yang berimplikasi langsung ke sektor-sektor berbasis pembiayaan seperti otomotif.
"Kalau kita lihat kan dalam berapa tahun ini laju kredit turun terus. Dulu kita dua digitnya 20% something loh pertumbuhan kredit. Sekarang pertumbuhan kredit sudah turun sampai 7%," kata Bob.
Padahal, industri otomotif sangat bergantung pada pembiayaan. Menurutnya, mayoritas pembelian kendaraan masih ditopang oleh kredit perbankan dan lembaga pembiayaan.
"Industri otomotif, industri yang digerakkan oleh kredit. Mungkin 70 persen - 80 persen pembeli itu menggunakan kredit. Nah ini juga harus jadi perhatian kita," lanjutnya.
Tabungan Warga RI Jadi Sinyal Penentu
Dari sisi konsumen, Bob membedakan tantangan antara segmen menengah dan menengah atas. Pada segmen menengah, isu utama masih berkaitan dengan kesehatan keuangan yang membuat perbankan lebih berhati-hati menyalurkan kredit.
"Kalau dulu isunya middle segment, ya itu isunya adalah kesehatan keuangan mereka. Jadi banyak yang mau beli mobil tapi kesehatannya nggak sehat. Jadi perbankan nggak berani mengeluarkan kreditnya," jelasnya.
Sementara itu, pada segmen menengah atas, faktor psikologis dan tingkat kepercayaan terhadap kondisi ekonomi menjadi penentu utama konsumsi.
"Tapi kalau yang middle up, itu confidence untuk consumptionnya akan menentukan. Duitnya punya gitu loh. Tapi kalau misalnya confidencenya nggak ada, dia akan mengurangi belanja," ujar Bob.
Ia menambahkan, tingkat tabungan masyarakat berpenghasilan tinggi bisa menjadi indikator awal melemahnya kepercayaan tersebut. Ketika dana parkir di bank meningkat, konsumsi biasanya mulai tertahan.
"Kalau tingkat tabungan mereka di bank sudah mulai naik, itu tunjukkan bahwa confidence dia rendah. Dan dia akan mengurangi belanjanya," katanya.
Dengan berbagai indikator tersebut, Bob menilai belum ada pihak yang benar-benar bisa memastikan arah ekonomi Indonesia pada 2026. Namun, satu hal yang menurutnya paling krusial tetaplah pergerakan harga komoditas.
"Dan saya rasa nggak ada yang bisa melihat 2026 ini akan seperti apa. Tapi kuncinya harga komoditas. Jadi harga komoditas itu turun, ekonomi kita akan tambah sulit. Harga komoditas naik, ekonomi kita akan turun," pungkasnya.
(dce/dce)
[Gambas:Video CNBC]

16 hours ago
5
















































