Jakarta, CNBC Indonesia - Jalan hidup Djoko Susanto, pemilik Grup Alfamart, berawal dari warung kelontong sederhana milik ibunya di kawasan Petojo, Jakarta. Sebelum membangun bisnis ritel dengan lebih dari 23.000 gerai, Djoko sempat bekerja sebagai pegawai di perusahaan perakitan radio.
Pria yang memiliki nama asli Kwok Kwie Fo itu kemudian berhenti bekerja dan kembali membantu usaha keluarga pada 1960-an. Dari Toko Sumber Bahagia, Djoko belajar mengelola bisnis ritel dari bawah, mulai melayani pelanggan, mengatur stok hingga menjaga toko.
Warung tersebut awalnya menjual kebutuhan sehari-hari seperti kacang tanah, minyak sayur, sabun dan rokok. Seiring waktu, Djoko memfokuskan usaha pada perdagangan rokok dan berhasil mengembangkan jaringan grosir hingga memiliki 15 toko pada 1987.
Keberhasilan itu mempertemukannya dengan Putera Sampoerna, petinggi PT HM Sampoerna.
"Pertemuannya dengan Putera Sampoerna, bos PT HM Sampoerna akhir 1986 mengubah nasibnya secara total," tulis Sam Setyautama dalam Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia (2008).
Djoko kemudian dipercaya menjadi direktur penjualan PT Sampoerna dan direktur PT Panarmas, distributor rokok Sampoerna. Saat ikut memasarkan Sampoerna A Mild pada 1989, ia mulai mengembangkan bisnis ritel sendiri dengan mendirikan PT Alfa Retailindo dan mengubah salah satu gudang Sampoerna di Jalan Lodan No. 80 menjadi Toko Gudang Rabat.
Di sinilah bisnis yang awalnya berkembang dari warung ibunya mulai berubah menjadi jaringan ritel modern. Toko Gudang Rabat yang semula menjadi tempat distribusi rokok Sampoerna kemudian dikembangkan menjadi toko yang menjual beragam kebutuhan sehari-hari. Gerainya bertambah dan pada 1990-an telah memiliki 32 toko di sejumlah kota.
Format toko tersebut kemudian diarahkan menjadi minimarket yang lebih dekat dengan konsumen. Pada 18 Oktober 1999, jaringan itu berganti nama menjadi Alfa Minimart di bawah PT Sumber Alfaria Trijaya, dengan gerai pertama di Jalan Beringin Raya, Tangerang.
Alfa Minimart kemudian berkembang menjadi Alfamart sejak 1 Januari 2003. Dari usaha keluarga yang bermula di warung kelontong, bisnis tersebut kini tumbuh menjadi Grup Alfamart dengan lebih dari 23.000 toko di Indonesia, termasuk gerai yang dikelola anak usaha seperti Alfamidi dan Lawson.
(arj/arj)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
3

















































