Beras Dunia Mulai Panas Gara-Gara El Nino, RI Masih Aman?

4 hours ago 5

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

23 June 2026 16:27

Jakarta, CNBC Indonesia- Harga beras dunia kembali bergerak naik pada perdagangan Selasa (23/6/2026).

Kontrak beras acuan tercatat mencapai US$12,48 per hundredweight (cwt), naik 2,21% dibandingkan hari sebelumnya. Kenaikan ini membawa harga beras ke level tertinggi dalam lebih dari sepekan.

Pasar merespons meningkatnya risiko cuaca di kawasan Asia. Sejumlah negara produsen utama di Asia Tenggara mulai menghadapi ancaman pola cuaca El Nino yang diperkirakan memicu kondisi lebih panas dan lebih kering dalam beberapa bulan mendatang. Filipina bahkan telah memperingatkan potensi penurunan produksi gabah hingga 700 ribu ton atau sekitar 3,5% dari target produksi tahunannya.

Pergerakan Harga Beras DuniaPergerakan Harga Beras Dunia Foto: Trading Economics

Kekhawatiran tersebut muncul ketika rantai pasok global masih dibayangi ketidakpastian dari Timur Tengah. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang belum sepenuhnya normal membuat pasokan energi dan pupuk tetap mahal.

Bagi petani, biaya produksi menjadi lebih tinggi. Pasar kemudian memasukkan risiko tersebut ke dalam perhitungan harga beras berjangka.

Meski demikian, kondisi pasokan global sebenarnya masih jauh dari kata sempit. India, eksportir beras terbesar dunia, saat ini menyimpan stok beras pemerintah mencapai 68,43 juta ton per 1 Juni 2026. Angka tersebut naik 15% dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan lebih dari lima kali kebutuhan cadangan resmi pemerintah India untuk awal Juli. Stok yang besar ini menjadi penahan laju kenaikan harga dunia.

Data perdagangan juga memperlihatkan permintaan internasional belum terlalu agresif. Ekspor beras Thailand pada Januari-Mei 2026 turun 10,75% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Situasi ini membuat harga beras dunia masih tercatat lebih rendah sekitar 8% dibandingkan posisi tahun lalu meskipun beberapa hari terakhir mengalami penguatan.

Kondisi Indonesia

Di Indonesia, cerita yang berkembang berbeda. Saat pasar global mengkhawatirkan produksi, Indonesia justru sedang menikmati peningkatan pasokan. Badan Pusat Statistik mencatat produksi beras nasional tahun 2025 mencapai 34,69 juta ton, bertambah sekitar 4 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya.

Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) bahkan menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara untuk musim 2025/2026.

Menurut FAO dalam laporan Food Security Snapshot per 29 Januari 2026, prospek produksi padi dan jagung Indonesia pada 2026 dinilai cukup baik. Panen padi pertama yang menyumbang sekitar 55% produksi tahunan diperkirakan dimulai pada Februari 2026 dengan luas tanam di atas rata-rata lima tahun terakhir. Kondisi cuaca yang relatif mendukung di Pulau Jawa, sentra penghasil sekitar separuh produksi beras nasional, serta dukungan pemerintah melalui pupuk bersubsidi menjadi faktor pendorong produksi.

Meski demikian, FAO mencatat sejumlah gangguan di Sumatra. Curah hujan yang lebih rendah dari normal pada akhir 2025 sempat menghambat penanaman dan pertumbuhan tanaman di beberapa wilayah. Di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, banjir dan longsor pada akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026 menyebabkan kerusakan lahan, hilangnya stok pangan, serta gangguan terhadap infrastruktur seperti jalan dan jembatan.

FAO juga melaporkan bahwa produksi padi Indonesia sepanjang 2025 mencapai sekitar 59 juta ton, atau sekitar 9% di atas rata-rata historis.

Kenaikan tersebut didorong oleh perluasan areal tanam dan hasil panen yang baik berkat kondisi cuaca yang umumnya mendukung. Produksi jagung 2025 diperkirakan mencapai 15,3 juta ton, sekitar 5% di atas rata-rata, seiring tingginya permintaan dari industri unggas domestik.

Di sisi perdagangan, FAO memperkirakan kebutuhan impor gandum Indonesia pada tahun pemasaran 2025/2026 mencapai 11,5 juta ton, mendekati rekor tertinggi. Kenaikan ini didorong pertumbuhan jumlah penduduk dan konsumsi produk berbasis gandum yang terus meningkat. Sementara itu, impor jagung diproyeksikan mencapai 1,5 juta ton, didorong kebutuhan industri pakan ternak yang masih kuat.

Persediaan pemerintah juga berada pada level yang belum pernah tercapai sebelumnya. Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog telah menembus sekitar 5,2 juta ton. Pemerintah menyebut angka tersebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah.

Namun kelimpahan pasokan belum sepenuhnya tercermin pada harga di tingkat konsumen. BPS mencatat rata-rata nasional harga beras medium pada pekan ketiga Juni mencapai Rp14.402 per kilogram. Beras premium berada di Rp16.230 per kilogram. Keduanya masih berada di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Jumlah kabupaten dan kota yang mengalami kenaikan harga beras juga bertambah dari 110 daerah menjadi 130 daerah.

Data harian Kemendag SP2KP memperlihatkan harga beras medium nasional tertimbang naik dari Rp13.809 per kilogram pada 19 Juni menjadi Rp13.818 per kilogram pada 22 Juni. Beras premium bergerak dari Rp15.473 menjadi Rp15.475 per kilogram pada periode yang sama. Kenaikannya memang tipis, tetapi arah pergerakannya masih menanjak.

Situasi tersebut memperlihatkan bahwa isu beras di Indonesia saat ini bukan terletak pada ketersediaan stok nasional.

Produksi sedang tinggi, gudang Bulog terisi penuh, dan posisi Indonesia di peta produksi dunia menguat.

Tantangan berikutnya berada pada bagaimana pasokan yang melimpah tersebut dapat lebih cepat diterjemahkan menjadi harga yang lebih stabil di tingkat konsumen.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |