Jakarta, CNBC Indonesia - PT Insight Investments Management (PT IIM) memandang tahun 2026 sebagai periode yang penuh tantangan sekaligus peluang, seiring dengan dinamika global yang masih diliputi ketidakpastian serta prospek ekonomi domestik yang menunjukkan pemulihan yang semakin solid. Secara global, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan masih stagnan di kisaran 3,2% sejak 2023 hingga 2026.
Ketegangan geopolitik, perang dagang, krisis iklim, serta dampak lanjutan pandemi COVID-19 masih menjadi faktor utama yang menekan outlook ekonomi global. Amerika Serikat dan Eropa sebagai negara maju (developed market) menunjukkan ketahanan yang relatif baik, dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS sekitar 2% pada 2025 dan diperkirakan melambat menjadi 1,7%, seiring dampak lagging dari kebijakan tarif proteksionis.
"Kebijakan tarif Amerika Serikat yang bersifat proteksionis justru meningkatkan ketidakpastian global dan berpotensi berpengaruh negatif terhadap Amerika Serikat sendiri. Dampaknya terhadap aktivitas bisnis dan investasi baru akan semakin terasa ke depan," jelas Direktur PT IIM Camar Remoa dalam keterangan resmi, Selasa (13/1/2026).
Di sisi lain, negara berkembang (emerging markets) masih menjadi motor pertumbuhan global. India mencatatkan pertumbuhan tertinggi, disusul oleh China dan Indonesia yang menunjukkan tren pertumbuhan relatif solid.
Pada paruh pertama 2025, pertumbuhan global bahkan tercatat lebih tangguh dari perkiraan, didorong oleh front-loading produksi dan perdagangan menjelang kenaikan tarif, investasi terkait Artificial Intelligence (AI) di AS, serta dukungan fiskal pemerintah Tiongkok.
Memasuki 2026, PT IIM memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi mencapai 5,2%, didorong oleh membaiknya permintaan domestik dan stabilitas makroekonomi. Konsumsi rumah tangga sebagai kontributor terbesar PDB menunjukkan penguatan.
Hal ini tercermin dari data Consumer Confidence Index (CCI) yang terus menguat, menandakan pulihnya kepercayaan masyarakat. CCI November 2025 berada pada level 124 yang menandakan konsumsi semakin solid dan mengindikasikan keyakinan masyarakat yang terus membaik. Didorong oleh tren suku bunga yang lebih rendah, masyarakat diharapkan akan lebih terstimulasi untuk meningkatkan belanja.
Sebagai catatan, pemerintah turut memberikan katalis positif melalui Economic Acceleration Package senilai Rp16 triliun yang mulai berdampak pada pemulihan daya beli masyarakat pada paruh kedua 2025. Inflasi juga terkendali di bawah 3%, sesuai dengan target Bank Indonesia, yang menandakan efektivitas kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas harga.
"Pemulihan ekonomi domestik mulai terlihat lebih merata. Kepercayaan konsumen yang membaik, inflasi yang terkendali, serta dukungan kebijakan moneter dan fiskal menjadi kombinasi positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan," jelas Camar.
Dari sisi fiskal, defisit fiskal tetap terjaga dengan defisit yang diproyeksikan berada di bawah 3% PDB. Sementara itu, belanja pemerintah pada 2026 diproyeksikan meningkat dengan fokus pada program prioritas nasional, termasuk sektor sosial, pangan, dan infrastruktur, serta keberlanjutan stimulus ekonomi.
Sementara itu, investasi sebagai kontributor terbesar kedua diperkirakan membaik, sejalan dengan perbaikan indikator Purchasing Managers' Index (PMI) yang konsisten berada di atas level ekspansif 50. Meski demikian, Camar menekankan bahwa tantangan utama tetap berada pada aspek eksekusi dan koordinasi antar lembaga, agar momentum pemulihan ekonomi dapat terjaga secara berkelanjutan.
Dari sisi pasar obligasi, hingga akhir September 2025 pemerintah telah menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp710,55 triliun, atau sekitar 79% dari target lelang tahun 2025. Dengan sisa penerbitan sekitar Rp180 triliun pada kuartal IV, target tersebut dinilai masih sangat manageable.
Kepemilikan SBN terus didominasi oleh investor domestik, mencerminkan keyakinan pasar terhadap stabilitas dan kredibilitas obligasi pemerintah Indonesia.
"Tingginya likuiditas domestik serta pergeseran alokasi dari SRBI ke SBN menunjukkan bahwa obligasi pemerintah masih menjadi instrumen utama bagi investor dalam menjaga stabilitas portofolio di tengah volatilitas global," kata Camar.
Volume obligasi jatuh tempo yang mencapai sekitar Rp218,9 triliun pada Oktober 2025 berpotensi menyuntikkan likuiditas signifikan ke sistem keuangan. Likuiditas ini diperkirakan akan kembali mengalir ke SBN maupun obligasi korporasi, yang masih menawarkan imbal hasil menarik.
Pasar Saham Indonesia
Sepanjang 2025, pasar saham Indonesia bergerak dalam volatilitas yang tinggi. Arus dana asing sempat mencatatkan outflow hingga Rp54 triliun pada September 2025, terutama pada saham-saham large cap seperti sektor keuangan dan konsumer.
Namun, sentimen mulai membaik pada Oktober-November 2025 dengan kembalinya inflow asing sekitar Rp25 triliun, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap pasar domestik. Camar menguraikan bahwa dari sisi earnings performance secara keseluruhan kinerja laba emiten di IHSG terkontraksi sekitar 9% sepanjang 9M-2025, namun hal tersebut berbanding terbalik dengan kinerja IHSG setahun kebelakang.
"Hingga penutupan Desember 2025, IHSG tercatat mengalami kenaikan 22,1% ke level 8.646, dimana penguatan tersebut terutama didorong oleh saham-saham konglomerasi seperti DSSA, DCII, BRPT, TLKM, ASII, dan BRMS. Sementara itu, saham-saham big cap tradisional, khususnya perbankan, seperti yang mendominasi indeks LQ45 naik sebesar 2,41% dan SRI Kehati sebesar 2,02%." ujar Camar.
Sejalan dengan kondisi ekonomi domestik yang semakin solid tersebut, Camar menilai bahwa tahun 2026 dapat membawa optimisme bagi investor untuk mulai berfokus pada peluang pertumbuhan di pasar saham. Pulihnya daya beli masyarakat diprediksi akan menjadi bahan bakar utama bagi kenaikan kinerja perusahaan-perusahaan di bursa.
Camar menilai potensi liquidity easing pada tahun ini-yang distimulasi dari tren penurunan suku bunga serta Quantitative Easing (paket stimulus) di AS-dapat mendorong perbaikan ekspektasi pertumbuhan ekonomi ke depan. Likuiditas yang lebih longgar berpotensi mendorong aliran modal asing (capital inflow) masuk ke bursa domestik, sekaligus meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk reksa dana berbasis saham.
Reksa dana berbasis saham semakin menarik dengan potensi pertumbuhan yang atraktif, ditopang oleh valuasi indeks yang masih berada di bawah rata-rata historis lima tahun serta tingkat dividen yield yang relatif tinggi. Dalam konteks tersebut, Reksa Dana Insight SRI-Kehati Likuid (I-SRI Likuid) dapat menjadi salah satu alternatif bagi investor berprofil risiko agresif, mengingat portofolionya terdiri dari saham-saham berlikuiditas tinggi dan berdividen menarik, sejalan dengan karakteristik Indeks SRI Kehati sebagai indeks acuannya.
Sementara itu, bagi investor yang memiliki tingkat toleransi risiko lebih tinggi dan mengedepankan keyakinan (conviction-based investing), Insight Wealth dapat menjadi pilihan, dengan portofolio saham yang diseleksi secara aktif oleh manajer investasi.
"Dua reksa dana saham ini memiliki jejak kinerja yang kompetitif terhadap benchmark (Cek Fig.3) sehingga diharapkan mampu memanfaatkan peluang pemulihan pasar saham secara lebih terukur," jelas Camar.
Meski demikian, Camar menekankan pentingnya penerapan strategi investasi yang terdiversifikasi dan disiplin. Sambil menunggu momentum entry level yang lebih optimal serta untuk menjaga volatilitas portofolio, reksa dana pasar uang tetap relevan sebagai instrumen pengelolaan likuiditas.
"Untuk reksa dana pasar uang, I-Money menjadi solusi investasi yang relatif aman dan optimal dengan likuiditas terjaga. Begitupun dengan I-Mosy, reksa dana syariah bagi investor dengan time-horizon pendek. Kedua reksa dana ini memiliki track record kinerja cemerlang yang mengungguli benchmark," jelas Camar.
"Disiplin alokasi aset dan pemilihan instrumen yang tepat akan menjadi kunci bagi investor dalam menghadapi dinamika pasar pada 2026," pungkas Camar.
(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
1

















































