Zhafa Yuda Rehema, CNBC Indonesia
16 September 2026 15:35
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam 25 tahun terakhir, dunia dihadapkan pada fenomena menarik yakni keseimbangan pendidikan tinggi semakin bergeser ke arah perempuan.
Setelah tingkat partisipasi pendidikan tinggi perempuan dan laki-laki hampir setara sekitar tahun 2000, perempuan kini memiliki tingkat pendaftaran perguruan tinggi 12% lebih tinggi secara global.
Data terbaru dari World Bank dan UNESCO Institute for Statistics menunjukkan tingkat partisipasi perempuan di perguruan tinggi lebih tinggi dari laki-laki di 130 negara.
Data tersebut menggunakan angka tahun terbaru yang tersedia untuk masing-masing negara, yakni periode 2022-2025.
Perempuan Unggul di Mayoritas Negara
Angka yang digunakan merupakan gross enrollment ratio (GER), sehingga indikator ini tidak hanya mencerminkan mahasiswa yang berada dalam kelompok usia kuliah pada umumnya.
Karena itu, perbedaan usia saat masuk perguruan tinggi maupun durasi studi dapat turut memengaruhi kesenjangan antara perempuan dan laki-laki.
Kesenjangan partisipasi pendidikan tinggi terlihat cukup lebar di sejumlah negara. Swedia mencatat tingkat partisipasi perempuan 40% lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Selanjutnya, Brasil mencatat selisih 36%, Amerika Serikat 32%, dan Australia 31%.
Di Indonesia, tingkat partisipasi perempuan di pendidikan tinggi tercatat 20% lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Angka tersebut berada di atas rata-rata global yang mencapai 12%.
Menurut East Asia Forum, tingginya partisipasi perempuan di pendidikan tinggi Indonesia antara lain berkaitan dengan lebih banyaknya laki-laki muda yang tidak lagi bersekolah dibandingkan perempuan.
Di sisi lain, perempuan Indonesia juga mencatat capaian akademik yang lebih baik, termasuk dalam literasi, sains, dan matematika, yang turut berkaitan dengan tingginya partisipasi mereka di jenjang pendidikan tinggi.
Di sejumlah negara, kesenjangannya terlihat sangat besar. Gambia mencatat selisih 83%, diikuti Sint Maarten 78% dan Saint Vincent and the Grenadines 68%.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN), di Gambia, salah satu faktor yang berkaitan dengan tingginya partisipasi perempuan adalah semakin banyak laki-laki muda yang meninggalkan sekolah untuk mencari penghasilan di sektor informal. Kebijakan pendidikan juga turut mendorong partisipasi perempuan.
Jepang dan Korea Selatan Jadi Pengecualian
Pola berbeda terlihat di Asia Timur. Perempuan memiliki tingkat partisipasi pendidikan tinggi lebih tinggi dibandingkan laki-laki di China sebesar 14%, Hong Kong 9%, dan Singapura 9%.
Namun, tren tersebut berbalik di Jepang dan Korea Selatan. Di Jepang, tingkat partisipasi laki-laki tercatat 3% lebih tinggi dibandingkan perempuan. Sementara di Korea Selatan, selisihnya mencapai 11%.
Salah satu faktor yang dapat memengaruhi angka Korea Selatan adalah kewajiban wajib militer bagi sebagian besar laki-laki yang memenuhi syarat. Masa dinas tersebut dapat memengaruhi waktu seseorang menjalani pendidikan tinggi dan memperpanjang periode studi.
Perlu dicatat, data ini menggunakan gross enrollment ratio, bukan sekadar membandingkan jumlah mahasiswa laki-laki dan perempuan. Indikator tersebut dapat mencakup mahasiswa di luar kelompok usia kuliah pada umumnya.
Dengan demikian, perbedaan usia saat memasuki perguruan tinggi maupun lamanya seseorang menempuh pendidikan dapat memengaruhi angka kesenjangan.
Lebih Banyak Kuliah, Belum Tentu Lebih Banyak Penghasilan
Keunggulan perempuan dalam pendidikan tinggi juga terlihat dari tingkat pendidikan yang telah diselesaikan.
Di negara-negara OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), 55% perempuan berusia 25-34 tahun telah menyelesaikan pendidikan tinggi pada 2024, dibandingkan 42% laki-laki.
Perempuan juga lebih mungkin menyelesaikan gelar mereka. Data OECD menunjukkan adanya kesenjangan tingkat kelulusan yang secara konsisten lebih tinggi pada perempuan, khususnya dalam program sarjana.
Namun, keunggulan dalam pendidikan belum otomatis berujung pada pendapatan yang lebih tinggi.
Menurut National Bureau of Economic Research (NBER), peningkatan partisipasi perempuan di perguruan tinggi antara lain dipengaruhi oleh perubahan pandangan terhadap pendidikan sebagai investasi untuk karier dan kemandirian finansial sejak akhir 1960-an. Perubahan norma sosial dan meningkatnya peluang kerja bagi perempuan juga menjadi faktor pendukung.
Meski tingkat pendidikan perempuan kini lebih tinggi, kesenjangan pendapatan masih terlihat.
Di negara-negara OECD, perempuan berusia 25-34 tahun yang bekerja penuh waktu sepanjang tahun masih memperoleh penghasilan sekitar 17%-18% lebih rendah dibandingkan laki-laki dengan tingkat pendidikan yang sama.
(mae/mae)

2 hours ago
1

















































