Asia Terbelah Lawan AS: RI dan Malaysia Perkasa, Jepang Tak Berdaya

2 hours ago 2

Jakarta, CNCB Indonesia - Pergerakan mata uang Asia bergerak beragam melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan siang ini, Rabu (28/1/2026).

Merujuk data Refinitiv per pukul 12.15 WIB, mayoritas mata uang Asia terpantau menguat seiring pelemahan dolar AS di pasar global. Ringgit Malaysia terpantau sebagai yang terkuat, sementara itu, Yen Jepang justru tercatat jadi yang terlemah.

Ringgit Malaysia tampil sebagai yang paling perkasa setelah melesat 0,86% ke level MYR 3,916/US$. Level ini sekaligus menjadi level terkuatnya sejak April 2018 atau dalam hampir delapan tahun.

Penguatan juga diikuti oleh Won Korea yang menguat tajam 0,74% ke KRW 1.421,1/US$. Adapun, mata uang Garuda ikut menguat. Rupiah terpantau terapresiasi 0,39% ke Rp16.695/US$, sementara dong Vietnam naik 0,31% ke VND 26.050/US$.

Penguatan juga terlihat pada peso Filipina yang menguat 0,14% ke PHP 58,807/US$, serta yuan China yang naik 0,13% ke CNY 6,9453/US$. Adapun, Dolar Singapura menguat tipis 0,01% ke SGD 1,2596/US$.

Namun di sisi lain, beberapa mata uang Asia masih melemah. Yen Jepang turun 0,24% ke JPY 152,58/US$. Rupee India melemah 0,20% ke INR 91,625/US$, disusul dolar Taiwan yang turun 0,22% ke TWD 31,202/US$. Baht Thailand melemah 0,13% ke THB 30,94/US$.

Penguatan mayoritas mata uang Asia siang ini tak lepas dari pelemahan dolar AS di pasar global. Hal itu tercermin dari indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia.

Mengacu data Refinitiv, pada waktu yang sama DXY masih berada di zona negatif, turun 0,04% ke level 96,176. Pelemahan ini melanjutkan tekanan lebih dalam pada perdagangan sebelumnya, Selasa (27/1/2026), ketika DXY merosot 0,85% dan ditutup di 96,217.

Tekanan terhadap greenback turut dipicu komentar Presiden AS Donald Trump yang justru menambah kegelisahan pasar. Saat ditanya apakah dolar sudah melemah terlalu jauh, Trump menilai nilai dolar masih sangat baik. Pernyataan ini membuat pasar menangkap pesan bahwa tidak ada urgensi dari pemerintah untuk meredam pelemahan dolar yang sudah terjadi.

Di tengah kondisi pasar yang sensitif, sikap tersebut memunculkan pertanyaan tentang batas toleransi pemerintah AS terhadap pelemahan dolar. Ketika batas toleransi dianggap tidak jelas, pelaku pasar cenderung mengambil langkah defensif lebih cepat.

Trump juga menyatakan tidak menginginkan dolar turun lebih jauh dan ingin dolar "mencari levelnya sendiri". Namun bagi pasar, pernyataan itu tetap membuka ruang interpretasi karena tidak disertai sinyal stabilisasi yang tegas. Akibatnya, tekanan jual pada dolar tak mereda dan cenderung berlanjut. 

Setelah komentar Trump, pelemahan DXY disebut kian cepat hingga sempat menyentuh level terendah dalam empat tahun sejak Februari 2022. 

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |