Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah abu vulkani dari gunung api tersebut menyebar kebeberapa wilayah di Indonesia. Hal tersebut memunculkan kekhawatiran akan terulangnya tsunami seperti yang terjadi pada 2018.
Badan Geologi Kementerian ESDM menegaskan bahwa kondisi Gunung Anak Krakatau saat ini tidak sama dengan kondisi sebelum tsunami 2018. Adapun, dimensi tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil.
"Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini dimensi tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif," tulis akun Instagram Badan Geologi, Selasa (8/9/2026).
Menurut Badan Geologi, saat ini Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga). Badan Geologi menetapkan radius rekomendasi sejauh 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api tersebut.
"Saat ini Gunung Anak Krakatau masih berstatus level III (SIAGA) dengan jarak rekomendasi 3 km dari pusat aktivitas artinya potensi erupsi masih tinggi. Aktivitas Gunung Anak Krakatau terus dipantau secara visual dan instrumental oleh PVMBG. Peningkatan aktivitas tidak ditentukan hanya dari satu erupsi atau video, tetapi dari berbagai parameter pemantauan," lanjutnya.
Di samping itu, Badan Geologi juga menjelaskan mengenai abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang dapat terbawa hingga ke wilayah yang cukup jauh dari pusat erupsi. Adapun, kondisi tersebut dipengaruhi oleh ukuran material abu serta arah dan kecepatan angin.
Material abu yang sangat halus dapat terangkat ke atmosfer bersama kolom erupsi. Material tersebut kemudian terbawa mengikuti arah dan kecepatan angin pada ketinggian tertentu.
"Sebaiknya kurangi aktivitas di luar ruangan. Abu vulkanik mengandung partikel halus dan mengandung silika yang dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan. Jika harus keluar, gunakan masker dan kacamata, terutama saat hujan abu cukup pekat," tulis Badan Geologi.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

6 hours ago
8

















































