Jakarta, CNBC Indonesia - Mekar Djulianti Rukmana adalah anomali anak muda Indonesia. Tinggalkan kenyamanan dengan gaji tetap serta karir cemerlang, mereka memilih masuk ke rimba dunia usaha yang penuh ketidakpastian.
Mekar adalah mantan karyawan yang meninggalkan rasa aman di korporasi untuk berjuang dengan usaha sendiri lewat kerajinan keramik. Mekar meninggalkan status pegawai tetap di sebuah perusahaan konglomerasi di Jakarta untuk membuka usaha pada 2021. Mekar mengatakan pemantik dirinya untuk meninggalkan pekerjaan yang sudah dibangun dalam 3 tahun itu adalah soal waktu yang tidak fleksibel dan beban kerja yang tinggi.
"Kurangnya adalah ya kurang waktu, mau ngapain juga nggak gitu fleksibel gitu kan. Misalnya aku mau ada side job nih nggak bisa, karena pulang dari kantor aja udah malam gitu kan," ujarnya pada Jumat (21/11/2025) kepada CNBC Indonesia.
Foto: CNBC Indonesia
Produk Keramik oleh Mekar Djulianti
Tinggalkan Rasa Nyaman, Mekar Mulai Berani Rintis Usaha Sendiri
Mekar sendiri mengaku harus rela meninggalkan pendapatan yang konstan dalam menyokong kehidupan menuju ketidakpastian. Selain itu, dari sisi sosial ia meninggalkan teman yang biasanya menjadi tempat yang riuh dengan cerita menuju jalan pengusaha yang lebih sepi..
Pergumulan selesai, hati yang penuh ia jadikan modal pertama dan fundamental menjadi pengusaha di usia yang masih 24 tahun. Berawal dari hobi di bidang kerajinan, ia memilih sebagai pengrajin keramik.
"Aku tertarik di bikin keramik tuh waktu itu. Sebenarnya kayak lagi nyari sih, kayak apa ya, bikin apa ya, mau usaha apa ya gitu. Terus akhirnya ketemu tuh scroll Instagram, terus eh ini kok lucu ya, kayak gini, dan aku tuh sendiri suka banget sama sesuatu yang kraft gitu kan," katanya.
Menjalani usaha keramik nyatanya tak semudah yang ada dibayangan Mekar. Banyak sekali yang harus dipelajari. Tidak hanya bentuk artistik saja, namun berbagai hal teknis mulai dari teknik pembakaran, teknik pembuatan, hingga sifat-sifat pada unsur kimia harus dipelajari untuk menghasilkan produk yang sempurna.
"Aku awalnya juga mikir kayak gitu (mudah), tapi ternyata selain itu tuh kita belajar kemikal, belajar soal kimia, sifat-sifat kimia, kayak yang ha ini tuh nggak aku banget gitu. Terus habis itu kita belajar soal pengapian, kayak pembakaran tuh seperti apa, kayak bukan cuman yang bakar kue, terus cuma berapa derajat terus jadi gitu. Ternyata ini nggak kayak bermain api, kita hafalin warna api," cerita Mekar.
Kobaran api yang membakar tembikar juga ikut membakar semangat Mekar untuk terus berkarya walaupun dari sisi ekonomi tidak ada kepastian kantongnya terus terisi penuh.
Tantangannya adalah mindset pembeli lokal yang melihat kerajinan keramik dari sisi fungsional tanpa memperhatikan sisi artistik. Hal ini awalnya menjadi tantangan tersendiri bagi Mekar.
Secara ekonomi, karya buatan tangan akan lebih mahal dibandingkan dengan pabrikan. Hal ini yang membuat karyanya tidak terlalu diminati pasar dalam negeri.
"Omset tuh nggak stabil kan, kadang jualan, kadang nggak. Apalagi kalau barang handmade keramik itu kan punya nilai yang cukup tinggi ya. Kayak misalnya satu cup-nya aja bisa dibanderol Rp175 sampai Rp200-Rp300, bahkan lebih untuk piring-piring bisa Rp400-Rp500 ribu. Itu per buah, bukan per lusin. Orang tuh selalu berpikir kalau misalnya Rp150 ribu tuh per lusin gitu. Nggak, nggak segitu harganya, tapi itu sebiji," tuturnya.
"Jadi, untuk penjualan keramik sendiri tuh hanya orang-orang tertentu doang yang suka, dan orang-orang tertentu doang yang mau beli gitu. Ada circle tertentu yang mau beli gitu," sambung Mekar.
Hal Tak Terduga Bawa Keuntungan
Situasi yang terdesak acap kali melahirkan ide brilian. Saat omset seret karena minat yang kurang di pasaran, Mekar memiliki ide untuk membuat workshop. Ide inilah yang kemudian membuka pasar lebih luas bagi Mekar.
Awalnya workshop kerajinan keramik ia jadikan sayap penghasilan dari kerajinan. Ia mengakui omsetnya datang dari situ. Workshop keramik yang ia jalankan menarik masyarakat karena rasa penasaran. Ia pun melengkapi dengan bergabung ke komunitas untuk memperluas jaringan.
"Kadang aku nyelipin ada workshop. Kan orang penasaran gimana sih bikin keramik, jadi mereka ikut workshop. Nah, dari situ omset ada, kayak gitu."
Kerja ulet Mekar yang tidak pernah kehilangan harapan pada akhirnya menemukan titik terang. Bukan pasar lokal, namun pasar asing yang ternyata jodoh dari usaha kerajinan keramik miliknya.
Foto: CNBC Indonesia
Workshop Keramik oleh Mekar
Ia bercerita hal ini bermula dari sebuah bazar yang ia ikuti di daerah Blok M. Pada acara yang digelar tiga hari, produk Mekar tidak laku hingga dua hari penyelenggaraan. Ia pun bercerita bahwa sempat ada rasa putus asa dan ingin pulang saja.
"Awalnya itu aku ikut bazar tuh di M-blok. Untuk pertama kalinya aku bazar seumur hidup aku gitu kan. Terus tiga hari ya bazarnya ya aku cuma laku dua biji. Bener-bener dua piece ini doang gitu. Terus kayak aku disitu down kan. Hari kedua mau hari ketiga aku bilang. Udah lah aku gak mau jualan lagi. Aku gak kuat mental. Karena kan disitu kan bukan pebisnis ya. Namanya juga pekerja gitu kan," cerita Mekar.
"Jadi aku gak punya mental itu gitu. Udah bazar aja udah bayar loh sayang kata dia gitu kan. Udah itu kejual dua yang beli yang ngadain acara coba. Jadi tuh orang yang lalu-lalang tuh gak ada yang beli. Lirik aja tuh gak. Terus aku pikir apa barangku jelek ya."
Ia mengaku dorongan suaminya Eric yang membuatnya tetap bertahan untuk lebih lama di bazaar tersebut. Dorongan yang positif tersebut membangun kembali mental Mekar, sepotong demi sepotong optimisme Mekar pun terbangun. Ungkapan "Tuhan bersama orang-orang berusaha" benar adanya.
"Terus sampai satu kali aku ditawarin sama ada vendor. Dia istrinya orang Jepang. Suaminya orang Indonesia. Mereka punya brand baju batik gitu. Nah pasarnya adalah expert-expert Jepang di Cikarang. Jadi tuh orang-orang expert Jepang di Cikarang ini itu tuh kayak kekurangan hiburan gitu loh. Jadi mereka tuh mengadakan itu untuk orang Jepang. Nah aku tuh diajak di situ. Terus aku bilang ini bisa loh. Awalnya dia nanya ini bisa gak sih mereka coba bikin. Oh bisa dong. Kayak gitu kan. Jadi aku kayak memboyong studio aku ke sana gitu. Ke tempat tinggal mereka. Di situ kan di lingkungan itu gitu," tutur Mekar.
Pada akhirnya ia mengatakan bahwa hasil dari penjualan dan pendapatan dari workshop meningkat pesat di studio orang Jepang itu. Dari situ ia mendapatkan pelajaran bahwa selama ini bukan produknya yang jelek sehingga kurang diminati, tapi pasarnya kurang tepat.
"Wah aku udah tahu nih ternyata barang aku tuh bukannya jelek. Tapi pasarnya aja gak tepat gitu," tegasnya.
Ia mengatakan awalnya dia merasa produk keramiknya tidak bagus karena memiliki tone warna lebih gelap dan rustic dibandingkan pengrajin lain yang memiliki warna cerah.
Foto: CNBC Indonesia
Produk Keramik Rustic oleh Mekar
"Jadi tuh kalau aku dibandingin sama teman-teman kranikus yang lain tuh aku ngerasa kayak oh aku ngerti deh orang Indonesia tuh sukanya yang modelnya seperti ini. Yang warna-warni, yang warnanya pop. Kayak gitu-gitu kan. Sedangkan warna aku tuh kayak gelap, rustic. Terus misalnya orang Indonesia tuh gak common sama warna-warna kayak gini. Kayak kesannya jorok gitu kan. Sukanya tuh orang Indonesia yang terang, yang clean kayak gitu-gitu," katanya.
Dirinya pun mengatakan bahwa keramik modelnya digemari oleh ekspatriat dari Jepang, terutama bapak-bapak. Selain pendapatan bertambah, koneksi jaringan yang menjadi kunci pengusaha pun terbuka.
"Nah ternyata tuh di Jepang itu orang-orang, bapak-bapak ya terutama. Direktur-direktur tuh pada senang ternyata. Ya aku sampai kayak kenal beberapa direktur perusahaan Jepang yang ada di sini gitu.
Kalau Tidak Laku, Bukan Produk Jelek Tapi Pasar Kurang Tepat
Pada akhirnya Mekar telah lolos dari lubang jarum dengan menemukan pasar yang tepat untuk usaha kerajinan keramiknya. Menurut catatan, terbanyak pembeli produknya adalah warga negara asing seperti Korea Selatan, Jepang, Jerman, dan Australia. Sementara untuk lokal kurang terlalu diminati karena persoalan harga, selera, serta pandangan dalam melihat sebuah benda artistik.
Padahal katanya, karya seni keramiknya tidak hanya soal fungsi, namun ada proses panjang, pikiran artistik, sentuhan seniman, serta kompleksitas yang juga pelu dihargai dari suatu karya. Sayangnya, tidak semua bisa melihatnya.
Sebagai gambaran, Mekar membuat keramik itu di rumah. Nah proses pembuatannya itu adalah pertama, itu wedging. Wedging itu mengelah tanah. Jadi mengeluarkan air bubble di dalam tanah dan dibentuk bola-bola. Jadi tanahnya sudah padat dan siap untuk dibentuk jadi keramik.
"Nah proses pembuatannya itu ada dua cara, bisa wheel throwing atau hand building. Nah aku pakai kedua cara itu, tergantung bentuk yang ingin aku capai gitu. Nah kalau wheel throwing itu menggunakan mesin putar," ucap Mekar.
"Jadi prosesnya adalah kita bentuk sesuai dengan yang kita mau. Kemudian kita akan, kan itu bahasa ya kalau wheel throwing ya. Jadi setelah itu kita akan membuat dia setengah kering," sambungnya.
Setelah setengah kering Mekar akan melakukan proses trimming. Yakni pembentukan kaki atau penyempurnaan bentuk sesuai dengan yang kita mau. Nah kalau hand building itu hanya menggunakan tangan pembuatan keramiknya.
Foto: CNBC Indonesia
Produk Keramik oleh Mekar
Proses ini menggunakan tangan secara manual mencapai bentuk yang diinginkan. Kemudianjika semua bentuknya sudah selesai, lalu dikeringkan. Pengeringan itu butuh proses sekitar 2-3 hari mungkin lebih tergantung cuaca.
Tapi kalau misalnya cuaca sedang panas, biasanya satu sampai hari sudah kering. Setelah kering, masuk kepada proses pembakaran pertama. Jadi pembakaran pertama atau sebutannya pembakaran biskuit.
"Nah si greenware ini kita bakar supaya dia menjadi biskuit. Dengan waktu pembakaran sekitar 4-8 jam tergantung. Pokoknya lama bakarnya itu tergantung suhu yang ingin dicapai," ucapnya.
Ia menerangkan kalau pembakaran biskuit itu di 800 derajat celcius dan biasanya membutuhkan waktu 4-8 jam. Setelah pembakaran itu tungkunya didiamkan sampai dingin dan butuh waktu 2-3 hari. Kalau sudah dingin, dikeluarkan dari tungku si biskuitnya. Kemudian dilihat lagi apakah ada bagian yang harus di amplas karena kasar atau seperti apa.
Selanjutnya dibersihkan dari debu-debu, bisa dilap pakai spons basah atau lainnyaa. Setelah itu, masuk ke proses gelasir. Gelasir itu seperti proses pendekoran.
"Jadi memberikan warna atau memberikan corak kepada si keramik itu. Nah setelah pemberian gelasir itu kita bakar lagi di pembakaran kedua. Nah pembakaran kedua ini bisa sampai 12 jam terus-terusan. Nah itu biasanya bakar sampai di suhu 1.240 derajat celcius. Tergantung lagi di gelasirnya sendiri, resep gelasirnya," ucapnya.
Kemudian, setelah proses pembakarannya selesai itu ditunggu lagi tungkunya 2-3 hari. Sampai tungkunya dingin, baru tungkunya dibuka.
"Nah baru deh hasil akhir dari keramik itu jadi begitu. Kenapa harus menunggu tungkunya itu sampai dingin? Supaya tidak temperature shock. Jadi kalau misalnya terjadi temperature shock dari yang suhunya kan panas banget ya 1200-an. Itu kalau dibuka mungkin bisa meledak semua di dalam kayak begitu. Atau ada beberapa hal yang tidak dingin bakal terjadi," jelas Mekar.
"Karena kalau dengan suhu segitu itu di dalam tungkunya itu masih berisi api semua. Kalau ditanya butuh waktu berapa lama itu biasanya tergantung kapasitas tungkunya ya. Nah kalau misalnya diaku itu untuk memenuhi tungku sampai penuh sampai selesai pembakaran itu kurang lebih 1 bulan."
Meskipun pendapatan telah meningkat dan koneksi terbangun, tidak membuat Mekar berhenti mengembangkan usahanya. Kali ini lewat jalur dukungan pemerintah.
Mekar mengakui dukungan pemerintah daerah dalam mengembangkan suahanya yang berstatus UMKM juga tak kalah penting. Mekar mengungkapkan peran pemda dalam mengungkapkan UMKM yang ia rasakan. Lewat peran pemerintah, produknya pun sampai dipajang di perusahan ritel besar Uniqlo dan mengikuti pameran barang kreatif terbesar di Indonesia INAKRAF.
Bahkan beberapa kenalan sesama pelaku UMKM dibantu hingga memasarkan barang ke luar negeri dan ekspor.
Dirut BRI Hingga Menteri Kompak Sebut UMKM Nadi Ekonomi RI
Peran UMKM untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak bisa disangkal. Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Hery Gunadi mengatakan UMKM itu adalah satu pintu gerbang masuk untuk menjadi pengusaha.
"Sebuah negara itu akan dibilang negara maju kalau komposisi UMKMnya sudah lebih dari 4%. Indonesia mungkin sekarang masih di bawah 4% dari total penduduk. Negara maju seperti Jepang dan juga Amerika itu rasio pengusaha dibandingkan populasinya itu lebih dari 10-12%. Nah ini memang PR kita semua disini adalah gimana membangun capability UMKM ini, pengusaha," ungkapnya saat memberi sambutan dalam penyelenggaraan Grand Launching UMKM BRI x SOGO di SOGO Central Park Jakarta (28/11/2025).
Apalagi, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan juga diperkirakan akan semakin kuat. Hal ini dinilai Menteri UMKM Maman Abdurrahman sebagai peluang perkembangan UMKM.
"Ya, kita punya, memiliki optimisme, apalagi kalau diukur dari sisi pencapaian alokasi kur di sektor, di alokasi kur yang tahun 2025, itu kan target pengalokasian 60% ke sektor produksi tercapai. Nah, itu biasanya kita akan melihat efek impact-nya itu dampak kepada ekonomi masyarakat di daerah itu ya mungkin ya bisa dipertengahan di awal tahun 2026 dan pertengahan. Jadi, kita juga punya optimisme," katanya ditemui di Kantor Bank Indonesia dikutip Minggu (30/11/2025).
Foto: Romys
Dirut BRI dan Menteri UMKM
Ekonom Sebut Pengusaha Muda Sebagai Katalis Pertumbuhan Ekonomi RI
Sementara itu, Chief Economist PT Bank Permata, Tbk Josua Pardede mengatakan Peran UMKM dan usaha ultra mikro terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia sebenarnya sangat fundamental.
"Secara makro, berbagai data resmi menunjukkan bahwa UMKM menyumbang lebih dari 60% Produk Domestik Bruto Indonesia dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional, dengan jumlah pelaku usaha sekitar 65 juta unit atau sekitar 99% dari total unit usaha," katanya melalui pesan singkat kepada CNBC Indonesia dikutip Minggu (30/11/2025).
"Artinya, setiap gejolak di sektor UMKM langsung terasa pada pendapatan rumah tangga, terutama di lapisan menengah bawah dan masyarakat di luar kota besar. Di banyak daerah, UMKM dan usaha ultra mikro menjadi sumber nafkah utama, mulai dari warung kecil, pedagang kaki lima, pengrajin, hingga usaha pertanian skala rumah tangga. Peran mereka bukan hanya sebagai penyumbang angka pertumbuhan, tetapi juga sebagai penopang ketahanan ekonomi, karena ketika sektor besar melemah, UMKM relatif lebih cepat menyesuaikan diri dan menjadi bantalan penyerapan tenaga kerja," sambungnya.
Ia juga menyoroti tren anak muda sekarang yang kemudian terjun ke dunia suha disebut sebagai katalis yang sangat positif bagi masa depan eokonomi Indonesia.
"Generasi muda membawa cara pandang baru: lebih akrab dengan teknologi, lebih terbuka terhadap kolaborasi, dan lebih berani bereksperimen dengan model usaha yang menggabungkan unsur kreatif, digital, dan keberlanjutan," ucapnya.
Tren anak muda yang mau jadi pengusaha menurut Josua Pardede juga perlu didukung oleh pemerintah. Ia melihat pemerintah perlu memperkuat tiga dukungan utama: pembiayaan yang inklusif, peningkatan kapasitas, dan perluasan pasar.
"Dari sisi pembiayaan, Peraturan OJK Nomor 19 Tahun 2025 tentang Kemudahan Akses Pembiayaan kepada UMKM sudah menjadi langkah penting karena mewajibkan bank dan lembaga keuangan nonbank untuk memberikan kemudahan akses pembiayaan UMKM dengan prinsip mudah, tepat, cepat, murah, dan inklusif," tuturnya.
Implementasinya menurut Josua perlu diterjemahkan menjadi skema khusus yang sesuai karakter usaha UMKM dan ultra mikro, misalnya pembiayaan berbasis klaster usaha, pembiayaan rantai nilai kepada petani dan nelayan yang terhubung dengan pembeli besar, pemanfaatan data transaksi digital untuk penilaian kelayakan, serta penetapan biaya pembiayaan yang wajar.
Dukungan kedua adalah penguatan kapasitas dan pendampingan. Pembiayaan tanpa peningkatan kemampuan manajerial, pengelolaan keuangan, dan penguasaan teknologi sering berakhir pada kredit bermasalah dan usaha yang tidak berkelanjutan.
"Karena itu, program pelatihan dan pendampingan harus lebih terintegrasi dan berkelanjutan, bukan sekadar pelatihan sekali datang. Pemerintah dapat memperkuat kerja sama antara Kementerian Koperasi dan UKM, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan perbankan untuk menyediakan pusat pendampingan UMKM di daerah yang membantu pelaku usaha menyusun rencana bisnis, memperbaiki tata kelola, meningkatkan kualitas produk, dan mengurus legalitas usaha," ujarnya.
Sementara dukungan ketiga adalah kebijakan yang benar-benar membuka pasar bagi UMKM dan ultra mikro. Pemerintah pusat dan daerah perlu konsisten mengalokasikan porsi belanja barang dan jasa untuk diserap dari UMKM, termasuk melalui pengadaan barang pemerintah yang ramah bagi usaha kecil, misalnya paket dengan nilai kontrak yang terjangkau, persyaratan administrasi yang sederhana, dan pendampingan dalam proses tender.
"Dengan kombinasi peran besar UMKM dan ultra mikro saat ini, munculnya gelombang wirausaha muda, serta arah kebijakan yang semakin jelas seperti POJK Kemudahan Akses Pembiayaan, kita sebenarnya memiliki modal kuat untuk menjadikan sektor ini sebagai motor utama pertumbuhan berkualitas."
(ras/ras)

10 hours ago
5

















































