Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
25 May 2026 16:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia sedang menghadapi tiga catatan defisit yang muncul dalam waktu bersamaan. Ketiganya datang dari sisi eksternal dan fiskal, yakni Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), transaksi berjalan, dan APBN.
Defisit pertama datang dari Neraca Pembayaran Indonesia. Bank Indonesia (BI) dalam laporan terbarunya yang dirilis Jumat (22/5/2026) mengumumkan NPI kuartal I-2026 mencatat defisit sebesar US$9,1 miliar. Angka ini menjadi defisit terdalam sepanjang data NPI kuartalan yang tersedia di BI sejak 2004.
Defisit tersebut berbanding terbalik dengan kuartal sebelumnya. Pada kuartal IV-2025, NPI masih mencatat surplus US$6,1 miliar. Artinya, hanya dalam satu kuartal, posisi NPI berbalik tajam dari surplus besar menjadi defisit jumbo.
Bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, tekanannya juga jauh lebih dalam. Pada kuartal I-2025, NPI masih mencatat defisit US$787 juta. Dengan demikian, defisit NPI pada awal 2026 membengkak lebih dari 11 kali lipat dibandingkan kuartal I-2025.
Memburuknya NPI tersebut terjadi karena tekanan dari dua sisi sekaligus.
Transaksi berjalan kembali mencatat defisit, sementara transaksi modal dan finansial juga berbalik defisit. Tekanan pada transaksi finansial terutama datang dari investasi lainnya yang mencatat defisit besar di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
Hantu Lama Transaksi Berjalan Kembali Datang
Defisit kedua datang dari transaksi berjalan. Pada kuartal I-2026, transaksi berjalan Indonesia mencatat defisit US$4,0 miliar atau setara 1,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini melebar dibandingkan kuartal IV-2025 yang defisit US$2,5 miliar atau 0,7% dari PDB.
Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, tekanannya juga meningkat tajam.
Pada kuartal I-2025, transaksi berjalan hanya mencatat defisit sekitar US$200 juta atau 0,1% dari PDB.
Dengan posisi tersebut, defisit transaksi berjalan pada kuartal I-2026 menjadi yang terdalam sejak kuartal IV-2019, ketika Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan sebesar US$8,04 miliar.
Transaksi berjalan penting karena mencerminkan arus devisa dari aktivitas ekonomi riil, seperti ekspor-impor barang dan jasa, pembayaran bunga, dividen, hingga remitansi.
Jika transaksi berjalan defisit, artinya devisa yang keluar untuk pembayaran ke luar negeri lebih besar dibandingkan devisa yang masuk dari aktivitas ekonomi riil.
Kondisi ini sering menjadi perhatian pasar karena dapat menambah tekanan terhadap rupiah. Ketika kebutuhan dolar AS untuk impor, pembayaran jasa, bunga, dividen, dan kewajiban lain ke luar negeri lebih besar dibandingkan pasokan devisa yang masuk, tekanan terhadap nilai tukar bisa meningkat.
Indonesia punya pengalaman panjang dengan masalah ini. Defisit transaksi berjalan pernah menjadi salah satu "hantu" bagi perekonomian karena membuat Indonesia terlihat rapuh di mata investor global.
Salah satu periode yang paling diingat terjadi pada 2013, saat Indonesia masuk kelompok Fragile Five. Kelompok ini berisi negara-negara berkembang yang dianggap rentan oleh investor karena memiliki ketergantungan besar pada arus modal asing dan keseimbangan eksternal yang lemah.
Masalahnya, ketika transaksi berjalan defisit, pasokan devisa jangka panjang dari aktivitas ekspor-impor barang dan jasa menjadi kurang kuat.
Akibatnya, Indonesia perlu ditopang oleh arus modal dari pasar keuangan, atau yang sering disebut hot money.
Hot money ini berbeda dengan investasi jangka panjang. Dana ini bisa masuk cepat ke pasar saham dan surat utang, tetapi juga bisa keluar dengan sangat cepat ketika sentimen global berubah.
Karena itu, ketergantungan terhadap hot money membuat pasar keuangan dan rupiah lebih mudah goyah saat investor asing menarik dananya.
Pengalaman 2013 menjadi contoh paling nyata. Saat itu, pasar global dilanda kekhawatiran akibat sinyal pengetatan kebijakan moneter Amerika Serikat atau yang dikenal sebagai Taper Tantrum. Investor global ramai-ramai memburu dolar AS, sementara negara berkembang yang dianggap rapuh ditinggalkan.
Rupiah ikut terkena tekanan besar. Pada 2013, mata uang Garuda anjlok tajam terhadap dolar AS, bahkan menjadi salah satu yang tertekan paling dalam di antara negara Fragile Five. Salah satu penyebab utamanya adalah defisit transaksi berjalan Indonesia yang saat itu membengkak hingga sekitar 4% dari PDB.
Untuk kuartal I-2026, tekanan transaksi berjalan terutama datang dari menyusutnya surplus neraca perdagangan barang. Neraca barang memang masih surplus US$8,0 miliar, tetapi lebih rendah dibandingkan kuartal IV-2025 yang mencapai US$10,2 miliar.
Surplus neraca perdagangan nonmigas juga turun menjadi US$13,3 miliar, dari sebelumnya US$16,0 miliar. BI menjelaskan penurunan ini terjadi sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global serta terganggunya rantai pasok perdagangan antarnegara.
Di sisi lain, neraca jasa seperti biasa masih mencatat defisit. Pada kuartal I-2026, defisit neraca jasa mencapai US$4,6 miliar. Angka ini memang membaik dibandingkan kuartal IV-2025 yang defisit US$5,3 miliar, tetapi tetap menunjukkan bahwa Indonesia masih lebih banyak membayar jasa ke luar negeri dibandingkan menerima pembayaran jasa dari luar negeri.
Tekanan juga datang dari pendapatan primer. Pos ini mencatat defisit US$9,2 miliar, sedikit lebih tinggi dibandingkan kuartal IV-2025 sebesar US$9,1 miliar, terutama dipengaruhi oleh kenaikan pembayaran kupon dan bunga kepada investor asing.
Kembalinya defisit transaksi berjalan yang cukup dalam perlu dicermati.
Bukan berarti Indonesia otomatis akan mengulang krisis seperti 2013, tetapi sejarah menunjukkan bahwa defisit transaksi berjalan yang membesar bisa menjadi pintu masuk tekanan terhadap rupiah, pasar keuangan, dan kepercayaan investor.
Defisit APBN Turun, Tapi Belum Menghapus Kekhawatiran
Defisit ketiga datang dari APBN. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan dalam laporan APBN KiTa edisi Mei 2026 mengumumkan defisit APBN hingga akhir April 2026 mencapai Rp164,4 triliun atau setara 0,64% terhadap PDB. Angka ini membaik dibandingkan posisi Maret 2026 yang mencatat defisit Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap PDB.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai penurunan defisit APBN hingga April 2026 sebagai kabar baik.
"Realisasi sampai April 2026 defisitnya tinggal Rp164,4 triliun atau 0,64% dari PDB. Kemarin waktu keluar di Maret 2026 0,93%. Analis bilang kalau pukul rata defisitnya bisa 3,6%. Hitungannya nggak begitu, kalau cara mereka begitu, itu hitungan ajaib," kata Purbaya.
Menurut Purbaya, kondisi fiskal saat ini membaik karena keseimbangan primer sudah kembali surplus Rp28 triliun. Ia juga meyakini kondisi tersebut masih berpeluang terus membaik ke depan.
Namun, membaiknya defisit pada April belum sepenuhnya menghapus kekhawatiran. Defisit APBN tetap menjadi sorotan karena pada 2025 defisit fiskal Indonesia melebar hingga mendekati batas psikologis 3% PDB, yakni sekitar 2,92% terhadap PDB.
Selain itu, jika melihat pola historis, perbaikan defisit pada April sebenarnya bukan hal yang benar-benar baru. Berdasarkan data historis yang dihimpun, posisi APBN pada April memang kerap membaik dibandingkan Maret.
Pada 2018 misalnya, defisit APBN yang pada Maret masih sebesar Rp85,83 triliun menyusut menjadi Rp55,12 triliun pada April. Pola serupa juga terlihat pada 2021, ketika defisit turun dari Rp143,7 triliun menjadi Rp138,2 triliun.
Bahkan pada 2023, posisi APBN yang sudah surplus pada Maret justru membesar lagi pada April. Surplus APBN naik dari Rp128 triliun menjadi Rp234,7 triliun. Dari sisi rasio terhadap PDB, surplusnya juga meningkat dari 0,61% menjadi 1,12%.
Dengan demikian, penurunan defisit APBN pada April 2026 memang menjadi kabar positif.
Namun, perbaikan ini tetap perlu dilihat secara hati-hati karena secara historis April memang sering menunjukkan posisi yang lebih baik dibandingkan Maret. Di saat yang sama, kebutuhan belanja negara masih besar, sementara tekanan dari sisi eksternal juga sedang meningkat.
Tiga defisit ini membuat kondisi ekonomi Indonesia perlu dicermati lebih dalam. NPI mencatat defisit terbesar sepanjang sejarah, transaksi berjalan kembali menjadi hantu lama bagi rupiah, sementara APBN masih berada dalam posisi defisit meski membaik pada April.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

3 hours ago
5

















































