Ahli Fisika Jelaskan Peristiwa Isra Mikraj dari Kacamata Sains

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Isra Mikraj merupakan salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Pada malam itu, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan luar biasa dari Makkah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem dengan jarak sekitar 1.471 kilometer. Tidak hanya itu, dari sana Rasulullah SAW kemudian dinaikkan hingga Sidratul Muntaha di langit ketujuh. Seluruh rangkaian peristiwa ini diyakini berlangsung hanya dalam satu malam.

Bagi banyak orang, terutama dari sudut pandang logika modern, Isra Mikraj memunculkan rasa penasaran. Bagaimana mungkin seorang manusia menempuh jarak ribuan kilometer, bahkan menembus langit, dalam waktu yang sangat singkat? Terlebih pada masa itu, belum ada teknologi transportasi cepat seperti pesawat terbang. Perjalanan darat dengan berjalan kaki atau menunggang hewan saja membutuhkan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu.

Pertanyaan ini kerap dikaitkan dengan sains, khususnya fisika modern. Dalam penjelasan yang dimuat di situs resmi Muhammadiyah, Guru Besar Fisika Institut Teknologi Surabaya (ITS), Agus Purwanto, menyebut bahwa peristiwa Isra Mikraj tidak dapat dijelaskan menggunakan teori relativitas khusus yang dikembangkan Albert Einstein.

Situs Britannica menyatakan, teori relativitas khusus menjelaskan hukum fisika berlaku sama dalam kerangka acuan yang bergerak dengan kecepatan konstan, terutama saat mendekati kecepatan cahaya. Namun, semakin mendekati kecepatan cahaya, energi yang dibutuhkan akan semakin besar dan waktu akan melambat secara ekstrem. Kecepatan cahaya sendiri mencapai sekitar 299.792 kilometer per detik.

Menurut Agus, jika Isra Mikraj dipahami semata-mata melalui teori ini, maka Rasulullah SAW seharusnya telah melesat sangat jauh hingga keluar dari tata surya. Faktanya, Nabi Muhammad tetap berada di bumi dan kembali ke Makkah dalam waktu yang singkat.

Agus menjelaskan bahwa cahaya, dengan kecepatan tersebut, mampu mengelilingi bumi sekitar enam hingga tujuh kali hanya dalam satu detik. Sementara itu, dalam kisah Isra Mikraj, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan menggunakan Buraq. Jika diasumsikan bergerak dengan kecepatan cahaya, maka dalam satu jam Rasulullah bisa menempuh jarak lebih dari 4,3 miliar kilometer. Alias hampir setara jarak bumi ke Neptunus, planet terluar di tata surya.

Dengan kecepatan sedemikian tinggi, menurut hukum fisika, massa suatu objek justru akan hancur akibat energi yang terlalu besar. Atas dasar itu, Agus menilai teori relativitas khusus tidak memadai untuk menjelaskan Isra Mikraj. Teori yang sedikit lebih relevan adalah teori relativitas umum, yang menjelaskan bahwa gravitasi merupakan akibat dari kelengkungan ruang dan waktu yang disebabkan oleh massa dan energi.

Dalam relativitas umum, dikenal pula kemungkinan adanya dimensi ruang yang lebih tinggi atau bersifat non-fisik, yang berada di luar jangkauan pengalaman manusia. Manusia hidup dalam dimensi ruang. Namun, dimensi lain di luar itu sulit dijelaskan sepenuhnya oleh sains.

Meski demikian, Agus tidak merinci lebih jauh bagaimana teori ini dapat secara konkret menjelaskan Isra Mikraj. Yang jelas, peristiwa tersebut bukanlah perjalanan biasa, bukan pula perjalanan antariksa dengan wahana teknologi. Begitu juga bukan sekadar perpindahan antarplanet atau galaksi.

Pada akhirnya, Isra Mikraj dipahami sebagai peristiwa spiritual sekaligus mukjizat. Dia berada di luar batas hukum fisika yang dikenal manusia. Dalam keimanan Islam, peristiwa ini diyakini sepenuhnya terjadi atas kehendak Allah SWT, melampaui kemampuan akal dan sains untuk menjelaskannya secara utuh.

(mfa/mfa)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |