8 Tanaman yang Disebut dalam Alkitab, Jadi Rahasia Pengobatan Kuno

9 hours ago 4

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia

20 June 2026 16:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebelum antibiotik ditemukan, sebelum apotek hadir di hampir setiap kota, manusia mengandalkan tanaman untuk bertahan hidup.

Ketika terluka, mereka menggunakan getah pohon. Saat sakit, mereka mencari daun, akar, atau minyak yang dipercaya dapat membantu pemulihan. Dalam banyak kasus, tanaman menjadi "obat" pertama yang tersedia.

Di Timur Tengah kuno, peran tanaman bahkan jauh lebih besar. Mereka tidak hanya digunakan untuk kesehatan, tetapi juga menjadi bagian dari perdagangan, ritual, dan kehidupan sehari-hari.

Menariknya, jejak penggunaan tanaman-tanaman tersebut masih dapat ditemukan dalam berbagai catatan kuno, termasuk Alkitab.

Berbagai tanaman dari masa tersebut disebutkan dalam Alkitab, memberikan gambaran menarik tentang bagaimana manusia merawat diri mereka ribuan tahun lalu. Sebagian tanaman digunakan untuk mengobati luka, sementara yang lain dihargai karena sifatnya yang menenangkan, harum, atau mampu membersihkan tubuh.

Obat-obatan berbasis tanaman ini umumnya diperoleh dari lingkungan sekitar. Namun, beberapa jenis yang langka didatangkan dari daerah yang jauh melalui jaringan perdagangan pada masa itu. Meskipun kemajuan ilmu kedokteran telah merevolusi layanan kesehatan, tanaman-tanaman ini tetap memiliki daya tarik historis tersendiri.

Dari Pereda Nyeri hingga Perawatan Luka

Mur (myrrh) misalnya, dikenal karena penggunaannya sebagai pereda nyeri, bahan minyak urap, hingga perawatan kesehatan mulut. Getah dari pohon Commiphora myrrha ini termasuk salah satu produk yang paling dihargai pada masanya.

Zaitun memiliki peran yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selain menjadi sumber pangan, minyak zaitun digunakan untuk membantu merawat luka, mengatasi kulit kering, dan menjadi bahan berbagai ramuan kesehatan tradisional.

Buah Zaitun. (Dok. Freepik)Buah Zaitun. (Dok. Freepik) Foto: Buah Zaitun. (Dok. Freepik)

Hisop (hyssop) dikenal sebagai tanaman aromatik yang digunakan untuk membantu mengatasi gangguan pernapasan dan membersihkan luka. Sementara itu, buah ara (fig) tidak hanya dikonsumsi sebagai makanan, tetapi juga disebut digunakan sebagai tapal untuk membantu mengobati infeksi Raja Hizkia.

Kemenyan (frankincense) juga menempati posisi penting. Selain dibakar sebagai dupa karena aromanya yang khas, minyaknya dipercaya membantu mengurangi peradangan dan memberikan efek menenangkan.

Ada pula mandrake, tanaman dengan akar yang menyerupai bentuk manusia. Dalam berbagai catatan kuno, tanaman ini digunakan sebagai pereda nyeri dan penenang ringan, meski harus digunakan dengan hati-hati karena efeknya yang cukup kuat.

Sementara itu, Balm of Gilead dikenal luas karena reputasinya sebagai obat untuk membantu penyembuhan luka dan berbagai gangguan kulit. Namanya bahkan kemudian menjadi istilah yang identik dengan sesuatu yang mampu memberikan kelegaan.

Produk Premium dari Dunia Kuno

Di antara berbagai tanaman tersebut, nard atau spikenard memiliki cerita yang berbeda.

Tanaman ini tidak berasal dari Timur Tengah, melainkan dari kawasan Himalaya. Artinya, nard harus menempuh perjalanan sangat jauh melalui jaringan perdagangan kuno sebelum sampai ke tangan konsumen.

Kelangkaan dan aroma khasnya membuat nard menjadi salah satu produk paling bernilai pada zamannya. Dalam banyak hal, posisinya tidak jauh berbeda dengan produk kesehatan atau wewangian premium yang diperdagangkan secara global saat ini.

Hal ini menunjukkan bahwa perdagangan produk kesehatan sebenarnya bukan fenomena modern. Jauh sebelum industri farmasi dan logistik global lahir, masyarakat kuno sudah memperdagangkan bahan-bahan bernilai tinggi lintas wilayah.

Ketika Obat Menjadi Komoditas

Mur, kemenyan, dan Balm of Gilead menunjukkan satu pola yang menarik.

Ketiganya tidak hanya digunakan karena manfaat yang dipercaya dimiliki, tetapi juga karena memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Semakin langka dan semakin luas permintaannya, semakin tinggi pula nilainya dalam perdagangan.

Karena itu, tanaman-tanaman tersebut berada di persimpangan antara kesehatan dan ekonomi. Mereka berfungsi sebagai bahan pengobatan, tetapi pada saat yang sama juga menjadi komoditas yang diperjualbelikan antarwilayah.

Dunia yang Belum Memisahkan Banyak Hal

Cara masyarakat kuno memandang tanaman berbeda dengan dunia modern saat ini.

Satu tanaman bisa menjadi obat, parfum, bahan ritual, sekaligus barang dagangan bernilai tinggi. Tidak ada batas yang benar-benar tegas antara kesehatan, perdagangan, dan kehidupan spiritual.

Itulah yang membuat daftar tanaman dalam Alkitab menarik untuk dilihat kembali. Di balik nama-nama seperti mur, kemenyan, atau nard, tersimpan gambaran tentang bagaimana masyarakat kuno menjaga kesehatan, membangun perdagangan, dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Jauh sebelum laboratorium modern berdiri, manusia sudah mencari cara untuk menyembuhkan diri dengan memanfaatkan apa yang tersedia di alam sekitar mereka. Dan bagi banyak masyarakat pada masa itu, tanaman menjadi jawabannya.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |