7 Update Iran: Internet Mati 84 Jam, Respons China, Sampai Kabar WNI

7 hours ago 5
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Situasi Iran kian memanas seiring pemadaman internet nasional yang telah berlangsung lebih dari 84 jam, melonjaknya korban tewas dalam gelombang protes, serta tekanan ekonomi yang makin dalam.

Berikut update terbaru terkait situasi di Iran, sebagaimana dihimpun CNBC Indonesia dari berbagai sumber, Senin (12/1/2025);

1. Pemadaman Internet Iran Lebih dari 84 Jam

Pemadaman internet di Iran kini telah berlangsung lebih dari 84 jam atau sekitar tiga setengah hari. Kondisi ini memicu kekhawatiran para aktivis bahwa pembatasan akses tersebut digunakan sebagai kedok penindakan, yang menurut klaim mereka telah menewaskan ratusan orang.

Lembaga pemantau internet Netblocks menyatakan, pemadaman jaringan berskala nasional masih terus terjadi hingga awal pekan ini.

"Saat Iran memulai hari baru, metrik menunjukkan pemadaman internet nasional telah melewati batas 84 jam," kata Netblocks, Senin (12/1/2026), seperti dikutip AFP.

Netblocks menambahkan, pembatasan akses internet tersebut masih dapat ditembus melalui sejumlah cara, antara lain menggunakan radio gelombang pendek, terhubung ke jaringan seluler di wilayah perbatasan, layanan internet satelit Starlink, serta telepon satelit.

2. Jumlah Korban Tewas di Iran Capai 544 Orang

Jumlah korban tewas dalam gelombang protes anti-rezim di Iran terus bertambah. Kelompok hak asasi manusia yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan sedikitnya 544 orang tewas dalam demonstrasi yang berlangsung selama 15 hari terakhir.

Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA), yang berafiliasi dengan organisasi Aktivis Hak Asasi Manusia di Iran, menyebutkan korban tewas tersebut mencakup 483 demonstran, delapan anak di bawah usia 18 tahun, serta lima warga sipil non-demonstran. Selain itu, tercatat 47 anggota militer atau aparat penegak hukum dan satu pejabat pemerintah, yakni seorang jaksa, turut menjadi korban.

HRANA juga melaporkan lebih dari 10.681 orang telah ditahan dan dipindahkan ke penjara sejak gelombang protes berlangsung.

Namun demikian, laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. CNN International menyebut Iran mengalami pemadaman internet selama lebih dari 72 jam setelah otoritas setempat memutus akses internet dan jaringan telepon.

3. Kejatuhan Ekonomi Iran

Perekonomian Iran tengah mengalami tekanan berat seiring merosotnya nilai tukar rial, lonjakan inflasi, dan meningkatnya tingkat kemiskinan. Kondisi tersebut memicu gelombang protes di sejumlah wilayah, yang diawali dengan pemogokan para pedagang di pasar Teheran. Banyak warga memilih mengalihkan simpanan ke emas sebagai bentuk perlindungan dari pelemahan mata uang.

Nilai tukar rial dilaporkan telah kehilangan sekitar 40% sejak perang 12 hari pada Juni lalu. Pada 28 Desember, mata uang Iran itu menyentuh titik terendah sepanjang sejarah, hampir mencapai 1,5 juta rial per dolar AS.

Tekanan ekonomi diperparah oleh inflasi yang melonjak ke level tertinggi dalam 40 bulan, yakni 48,6% pada Oktober, sebelum turun ke 42,2% pada Desember, menurut Pusat Statistik Iran. Kenaikan harga pangan bahkan mencapai 72% secara tahunan, memperdalam beban hidup masyarakat.

Sanksi Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa terus membatasi akses Iran ke valuta asing dan sistem perbankan internasional. Di sisi lain, kebijakan pinjaman bank sentral, subsidi yang tidak berkelanjutan, korupsi, serta regulasi yang rumit turut memperburuk kondisi ekonomi. Bank Dunia memperkirakan produk domestik bruto (PDB) Iran akan menyusut 1,7% pada 2025 dan 2,8% pada 2026.

Di tengah tekanan tersebut, Presiden Masoud Pezeshkian berjanji akan melakukan reformasi mendasar pada sistem moneter dan perbankan untuk melindungi daya beli masyarakat. Meski demikian, ketidakstabilan kebijakan masih membayangi, termasuk pengunduran diri gubernur bank sentral dan pemakzulan Menteri Ekonomi Abdolnaser Hemmati, sementara ekspor minyak sekitar 2 juta barel per hari dinilai belum cukup menutup tantangan ekonomi secara keseluruhan.

4. China Respons Demo Iran

China buka suara terkait gelombang demonstrasi yang terus meluas di Iran. Beijing menegaskan penolakannya terhadap segala bentuk campur tangan asing, menyusul ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang membuka opsi intervensi militer jika pemerintah Iran dianggap membunuh para demonstran.

"Kami selalu menentang campur tangan dalam urusan internal negara lain," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers rutin, Senin waktu setempat, menanggapi pernyataan Trump, seperti dikutip AFP.

Mao juga menyerukan agar semua pihak menahan diri. "Kami menyerukan kepada semua pihak untuk melakukan lebih banyak hal yang kondusif bagi perdamaian dan stabilitas di Timur Tengah," ujarnya.

Pernyataan China ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Iran, yang kini memasuki pekan ketiga protes nasional. Demonstrasi awalnya dipicu oleh lonjakan biaya hidup, namun berkembang menjadi tantangan serius bagi pemerintahan yang berkuasa sejak Revolusi Islam 1979.

5. Ancaman di Selat Hormuz

Ketegangan geopolitik kembali memanas setelah munculnya kemungkinan tindakan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. Situasi ini membuat Selat Hormuz, jalur minyak paling vital di dunia, kembali menjadi titik rawan yang berpotensi mengguncang pasar energi global.

Presiden AS Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan sejumlah opsi kebijakan terhadap Iran di tengah meningkatnya tekanan politik domestik. Para analis memperingatkan, eskalasi konflik dapat mendorong Teheran mengambil langkah ekstrem, termasuk mengganggu lalu lintas di Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab.

"Gangguan di Selat Hormuz bisa memicu krisis minyak dan gas global, terutama jika rezim Iran merasa terpojok dan bertindak secara putus asa," kata Kepala Riset Energi MST Marquee, Saul Kavonic, seperti dikutip CNBC International, Senin (12/1/2026).

Data perusahaan intelijen pasar Kpler menunjukkan, sekitar 13 juta barel minyak mentah per hari melintasi Selat Hormuz pada 2025, atau setara 31% arus minyak mentah global melalui jalur laut. Ancaman gangguan di jalur ini sebelumnya juga mencuat saat ketegangan AS-Iran meningkat pada Juni tahun lalu.

6. Putra Shah Iran Buka Suara di Tengah Gelombang Protes

Reza Pahlavi, putra terakhir Shah Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979, angkat suara di tengah meluasnya gelombang protes anti-pemerintah di Iran. Dari pengasingannya di Amerika Serikat, Pahlavi menyatakan kesiapan memimpin transisi menuju Iran yang sekuler dan demokratis.

Melalui pesan video yang diunggah di platform X, Pahlavi memuji keberanian rakyat Iran yang turun ke jalan dan menyerukan diakhirinya pemerintahan ulama yang telah berkuasa hampir setengah abad.

"Kita akan sepenuhnya membuat Republik Islam dan aparatus penindasannya yang usang dan rapuh bertekuk lutut," ujar Pahlavi, seperti dikutip Reuters, Senin.

Pahlavi juga menegaskan hanya ada satu jalan keluar dari krisis berkepanjangan Iran, yakni perubahan sistem politik secara menyeluruh.

"Hanya ada satu jalan untuk mencapai perdamaian: Iran yang sekuler dan demokratis. Saya di sini untuk menyerahkan diri kepada rekan-rekan sebangsa saya untuk memimpin mereka di jalan menuju transisi demokrasi," katanya dalam pidato terpisah.

Meski sejumlah video media sosial menunjukkan sebagian demonstran meneriakkan slogan "Hidup Shah!", dukungan nyata terhadap Pahlavi di dalam negeri masih sulit diukur. Gelombang protes terbaru sendiri dipicu tekanan ekonomi berat akibat sanksi internasional berkepanjangan, serta dampak konflik singkat dengan Israel dan Amerika Serikat pada Juni lalu, yang semakin memperburuk kondisi masyarakat Iran.

7. Kondisi WNI di Iran

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI terus memantau kondisi keamanan serta keberadaan warga negara Indonesia (WNI) di Iran di tengah perkembangan situasi terkini di negara tersebut.

Melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tehran, Kemlu memastikan bahwa hingga saat ini kondisi WNI di sejumlah wilayah relatif aman. Kota-kota yang menjadi simpul utama komunitas WNI seperti Qom dan Isfahan dilaporkan tidak mengalami gangguan keamanan yang signifikan.

"Berdasarkan komunikasi KBRI Tehran dengan para WNI di berbagai wilayah di Iran, situasi di kota-kota utama komunitas WNI relatif kondusif," demikian keterangan Kemlu RI.

Kemlu menyebutkan, mayoritas WNI yang berada di Iran berstatus sebagai pelajar dan mahasiswa, terutama yang menempuh pendidikan di berbagai lembaga pendidikan di Kota Qom.

Hasil asesmen KBRI Tehran dengan memperhatikan kondisi di lapangan per 12 Januari menunjukkan bahwa langkah evakuasi belum diperlukan. Meski demikian, KBRI tetap melakukan berbagai persiapan sebagai langkah antisipasi jika terjadi eskalasi situasi keamanan, sesuai dengan rencana kontigensi yang telah disusun.

"KBRI Tehran terus melakukan persiapan untuk mengantisipasi kemungkinan memburuknya situasi keamanan," ujar Kemlu.

Kemlu juga mengimbau seluruh WNI di Iran untuk meningkatkan kewaspadaan, memantau perkembangan melalui sumber-sumber informasi resmi, menghindari pusat-pusat demonstrasi serta kerumunan massa, dan senantiasa menjaga komunikasi dengan KBRI Tehran.

Sementara itu, bagi WNI yang memiliki rencana perjalanan ke Iran, Kemlu mengimbau agar menunda keberangkatan hingga situasi keamanan dinyatakan kembali kondusif.

Dalam keadaan darurat, WNI dapat menghubungi Hotline KBRI Tehran di nomor +98 991 466 8845 atau +98 902 466 8889, serta Hotline Direktorat Pelindungan WNI Kemlu RI di nomor +62 812-9007-0027.

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |