Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
04 September 2026 08:40
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah saham mencatatkan kenaikan fantastis sejak awal tahun.
Berdasarkan data yang dihimpun dalam tangkapan layar, PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) memimpin dengan penguatan 1.028,42% secara year to date (YTD).
Posisi berikutnya ditempati PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR) yang melesat 590,68%, disusul PT Estee Gold Feet Tbk (EURO) dengan kenaikan 442,31%.
Di balik lonjakan tersebut, investor perlu mencermati seberapa jauh kenaikan harga didukung perkembangan bisnis. Pasalnya, rencana aksi korporasi dapat mengangkat ekspektasi pasar jauh sebelum manfaatnya terlihat dalam pendapatan dan laba perusahaan.
ALKA: Meroket di Tengah Konsentrasi Kepemilikan Tinggi
ALKA menjadi saham dengan kenaikan terbesar dalam daftar tersebut. Namun, perkembangan bisnis yang dapat menjelaskan seluruh lonjakan harganya belum terlihat jelas.
Dalam klarifikasi tertanggal 28 Juli 2026, manajemen menyatakan tidak mengetahui informasi material yang menjadi penyebab pergerakan saham. Perseroan juga menyampaikan tidak memiliki rencana aksi korporasi dalam waktu dekat.
Sementara itu, ALKA masuk kategori high shareholding concentration (HSC), dengan konsentrasi kepemilikan mencapai 98,21%.
Kondisi ini dapat membuat harga lebih sensitif terhadap perubahan permintaan apabila jumlah saham yang ditawarkan di pasar terbatas. Meski demikian, status HSC sendiri tidak otomatis menyebabkan harga naik. Kesimpulan bahwa saham mengalami kelangkaan pasokan tetap perlu didukung data transaksi dan kedalaman antrean perdagangan.
Dengan demikian, kenaikan ALKA belum dapat sepenuhnya dijelaskan oleh katalis fundamental yang telah diumumkan perusahaan.
AGAR mempunyai perkembangan korporasi yang lebih konkret melalui rencana pengambilalihan sedikitnya 51% saham oleh Suprajitno Sutomo. Rencana ini membuka ruang ekspektasi terhadap perubahan strategi dan pengembangan usaha.
Namun, berdasarkan penjelasan manajemen pada 27 Agustus 2026, proses pengambilalihan masih berada dalam tahap uji tuntas. Waktu penyelesaiannya juga belum dapat dipastikan.
Transaksi tersebut merupakan pembelian saham milik pemegang saham lama. Artinya, dana pembelian tidak otomatis masuk ke kas AGAR untuk membiayai ekspansi. Manfaat bagi perusahaan baru bisa dinilai lebih jauh setelah ada kejelasan strategi dan realisasi pengembangan bisnis.
Dari sisi operasional, AGAR memang menunjukkan perbaikan. Pendapatan semester I-2026 meningkat sekitar 59,5% menjadi Rp141,92 miliar. Perseroan juga berbalik mencetak laba bersih sekitar Rp1,02 miliar, setelah merugi Rp4,07 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski demikian, pemulihan tersebut belum cukup untuk membuat valuasinya terlihat murah. Menggunakan harga acuan Rp1.630 pada 3 September 2026 dan laba semester pertama yang disetahunkan secara sederhana, saham AGAR dihargai mendekati PE 800x.
Valuasi tersebut mengindikasikan bahwa harga AGAR telah memasukkan ekspektasi pertumbuhan yang sangat besar. Rencana pengambilalihan dan perbaikan usaha memberikan dasar bagi munculnya sentimen positif, tetapi belum cukup untuk membenarkan seluruh kenaikan 590,68%.
AGAR juga tercatat berstatus HSC dengan konsentrasi kepemilikan 99,32%. Kondisi ini berpotensi memperbesar sensitivitas pergerakan harga, tetapi tidak menambah kemampuan perusahaan menghasilkan laba.
Dengan fundamental yang sudah dibukukan, AGAR cenderung sangat mahal. Penilaian itu dapat berubah apabila pengendali baru berhasil menghadirkan pertumbuhan bisnis dan keuntungan yang jauh lebih besar.
EURO: Rights Issue Ada, Pertumbuhan Laba Belum Mengikuti
EURO memiliki rencana penerbitan maksimal 2 miliar saham baru melalui rights issue. Dana hasil aksi korporasi tersebut direncanakan untuk modal kerja dan peningkatan kapasitas usaha, dengan persetujuan pemegang saham dijadwalkan pada 18 September 2026.
Rencana penambahan modal ini dapat menjadi sentimen bagi saham perusahaan. Namun, manfaatnya bergantung pada harga pelaksanaan, jumlah dana yang dihimpun, serta keuntungan yang dihasilkan dari ekspansi.
Penerbitan saham baru juga menambah jumlah saham beredar. Karena itu, perusahaan perlu menghasilkan tambahan laba yang memadai agar manfaat ekspansi turut tercermin pada laba per saham.
Sejauh ini, kinerja EURO belum menunjukkan percepatan pertumbuhan. Pendapatan semester I-2026 hanya naik sekitar 0,74% menjadi Rp9,51 miliar, sedangkan laba bersih turun sekitar 21,25% menjadi Rp599,27 juta.
Pada harga acuan Rp1.290 pada 3 September 2026, valuasi EURO mencapai sekitar 2.743 kali PER apabila keuntungan semester pertama disetahunkan secara sederhana. Perhitungan ini merupakan ilustrasi berdasarkan kinerja berjalan, bukan proyeksi keuntungan setahun penuh.
Dibandingkan AGAR, kenaikan EURO lebih sulit dibenarkan melalui kinerja laba saat ini. Pasar tampak memasukkan harapan ekspansi yang besar, sementara pendapatan masih tumbuh tipis dan laba justru menyusut.
Adapun EURO tidak tercantum dalam kompilasi HSC yang diperiksa. Karena data dasarnya belum sepenuhnya mutakhir, status resmi terbarunya belum dapat dipastikan. Oleh sebab itu, belum ada dasar terverifikasi untuk menyebut kenaikan EURO disebabkan status HSC.
Bagi EURO, penentu berikutnya adalah rincian dan pelaksanaan rights issue serta hasil penggunaan dananya. Tanpa tambahan keuntungan yang signifikan, lonjakan harga saham masih menyisakan jarak yang lebar terhadap fundamental perusahaan.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

3 hours ago
6

















































